Tampilkan postingan dengan label kesaksian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesaksian. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Juli 2010

Wanita dan Dendam Di Hatiku

Sejak kecil Ferry telah ditinggal oleh ayahnya untuk selama-lamanya. Sang ibulah yang menjadi tulang punggung keluarga sehingga harus bekerja di tempat lain. Semenjak usia dini, Ferry telah diberi tanggungjawab untuk menjaga adik-adiknya. Ferry dapat melihat bagaimana hidup ibunya penuh dengan pergumulan yang terkadang sepertinya ingin menyerah untuk membiayai hidup dirinya maupun adik-adiknya.
Ibunya Ferry memang bukan orang yang memiliki pendidikan tinggi. Ketika Ferry ingin mengikuti les bahasa Inggris, makian dan kata-kata kasarlah yang terucap dari bibir ibunya sehingga menorehkan luka yang dalam di hati Ferry. Kekesalan dan kebencian yang dirasakan Ferry dilampiaskan Ferry di makam ayahnya. Cacian serta makian Ferry lontarkan di depan kubur sang ayah.
"Pertama-tama sih saya membersihkan makam papa sambil menangis. Habis itu saya maki-maki papa. ‘Apa artinya kamu, bisanya nyetak anak doank, tidak bertanggungjawab!!' Saya ludahi, saya tendangi makam papa di sana. ‘Kata orang dulunya kamu itu orang kaya! Kata orang dulunya papa itu orang hebat, tapi apa yang papa tinggalkan untuk kami? Hanya seperti ini!'," kisah Ferry. Dunia terasa tidak adil bagi Ferry.

Ketika Ferry menyaksikan teman-temannya bersenda gurau dengan ayah mereka, hal itu merupakan pemandangan yang menyakitkan baginya karena ia tak pernah mendapatkan sosok seorang ayah. Ferry sungguh-sungguh merasa kehilangan sosok seorang ayah. Ia tidak memiliki tempat mengadu ketika menghadapi masalah di sekolah, sedangkan ibunya hampir tidak pernah memiliki waktu bagi Ferry dan adik-adiknya. Rasa sayang Ferry terhadap sang ibu pun bisa dibilang hampir tidak ada.

Semua peristiwa itu menjadi kenangan pahit yang menggoncang jiwanya. Hal itu terus membekas dalam hatinya hingga Ferry tumbuh dewasa dan mengubah pribadi Ferry menjadi seorang yang kasar. Ia tidak lagi menghormati ibunya, bahkan tidak pernah lagi mau mendengarkan setiap perkataan ibunya. Apalagi perkataan ibunya seperti. "Mati saja kau!!" begitu sering terucap dari bibir ibunya.

Sebuah kejadian lain yang tanpa disadari membuat diri Ferry hancur. Sang adik pergi untuk selamanya akibat sebuah perkelahian. Ferry lah yang selalu dipersalahkan atas kematian adiknya. Bahkan ia disebut sebagai seorang ‘pembunuh' bagi adiknya. Hal itu begitu menyakiti hati Ferry. Tak ada seorangpun yang kuasa menolak kematian ketika ia datang menjemput. Demikian juga Ferry, ia merasa tidak ada hal lain yang dapat ia lakukan untuk menyelamatkan ataupun mengembalikan nyawa adiknya.

Dicap sebagai orang yang tidak berguna, membuat Ferry berusaha keras untuk membuktikan bahwa dirinya mampu. Namun upaya yang dilakukannya dianggap sebelah mata oleh sang ibu. Rasa sakit hati yang tertanam di hati Ferry semakin dalam. Sosok sang ibu pun tak ada lagi dalam diri Ferry. Kebersamaannya bersama sang pacar membuat Ferry kembali menemukan arti dan keberhargaan dalam hidup.

Namun hal itu tidak berlangsung lama. Sebuah kenyataan pahit harus siap untuk Ferry terima. Sang pacar ternyata memiliki cinta yang lain. Dendam dan kecewa terhadap ibu dan pacarnya membekas di hati Ferry. Niat untukmembalas semua perlakuan mereka terlintas dalam pikirannya. Ferry berniat menyakiti sebanyak mungkin wanita dan tidak akan pernah menghargai seorang wanita.

Untuk melampiaskan kekecewaannya, Ferry pun terjun pada kehidupan yang begitu liar. Meniduri banyak wanita adalah wujud untuk membalaskan dendamnya terhadap pacarnya. Ketika teman kencannya sudah dalam keadaan bugil, seringkali Ferry malah memaksa teman kencannya untuk berpakaian dan menutupi aurat mereka. Ferry sungguh-sungguh menunjukkan kemuakannya terhadap wanita.

Sekalipun tidak melakukan hubungan seks, menelanjangi dan melihat kepolosan tubuh wanita yang tidak ditutupi sehelai benang pun merupakan hal yang memuaskan hati Ferry. Dan hal itu sering ia lakukan sebagai wujud pelampiasan dendamnya terhadap ibu dan mantan kekasihnya.

"Kenikmatan buat saya lebih tepat dikatakan sebagai kepuasan. Karena setiap kali saya melakukan itu dengan dia, saya tidak ada perasaan sayang sama sekali, tidak ada perasaan mengasihi. Saya hanya ingin mempermalukan dan puas bila melakukan hal itu. Setelah melihat dia bugil seperti itu, saya pun langsung muak. Dan itu adalah sebuah kepuasan bagi saya. Saya sadar perilaku saya yang ingin menyakiti wanita itu adalah dampak dari apa yang dilakukan pacar saya dulu dan juga mama saya. Karena saya berpikir wanita itu jahat seperti mama saya dan pantas untuk disakiti," ujar Ferry.

Bertahun-tahun lamanya Ferry terjerat dakam kehidupan seks hingga ia terlena. Tak ada lagi kebahagiaan yang ia rasakan dalam dirinya.

"Saya merasa capek seperti ini terus. Saya butuh seseorang karena saya yakin hidup saya seharusnya tidak seperti ini. Ada sesuatu yang harus saya cari, tapi apakah itu bukanlah hal yang bisa saya jawab. Saya pun tidak tahu apa itu dan siapa yang saya cari," kenang Ferry akan masa lalunya.

Pada saat hati mulai kosong dan kesepian, Ferry mulai mencari sesuatu yang bisa mengisi kekosongan hatinya dan ia mendapatkannya. Ferry mulai mencari Tuhan. Ketika Ferry tenggelam dalam doa, ia benar-benar merasakan perasaannya plong dan terbebas dari segala tekanan itu. Dengan mengandalkan doa, perlahan-lahan Ferry mulai berubah. Sampai suatu hari Ferry mengikuti sebuah acara dan di sana penyesalan demi penyesalan mulai Ferry rasakan.

Di acara itu, Ferry didoakan oleh seorang wanita hamba Tuhan. Dan dalam doa tersebut, ia mangatakan, "Saya sebagai seorang wanita yang mungkin pernah menyakiti, atas nama mereka, saya minta ampun." Perkataan ini begitu menyentak hati Ferry, dan ia pun tanpa basa-basi lagi langsung mengambil keputusan untuk mengampuni dan meminta pengampunan dari orang-orang yang ia sakiti.

"Saat saya mengatakan mau, saya merasakan ada suatu kedamaina, ada suatu yang harus saya lakukan, yaitu komitmen. Saya harus mengampuni mama saya, dan juga pacar saya yang dulu, dan orang-orang lain yang mungkin saya sakiti. Saya tidak pernah menyelesaikan masalah hati ini dengan mantan pacar saya maupun ibu saya. Dan ketika hamba Tuhan tersebut berkata seperti itu, inilah yang selama ini saya cari, yaitu kata-kata, ‘Saya minta ampun' dan harus saya ungkapkan kepada mereka," kisah Ferry.

Perlahan-lahan hubungan yang selama ini membeku di antara Ferry dan ibunya mulai membaik. Akhirnya Ferry mendatangi ibunya dan mengakui semua kesalahannya serta meminta maaf.

"Ternyata hidup saya tanpa mama itu kosong. Saya minta ampun kepada mama, sudah mengecewakan mama selama ini, sudah membuat mama sedih. Dan ternyata Mama pun mengeluarkan sebuah pengakuan, mama meminta maaf karena tidak pernah memperhatikan saya dan juga adik-adik," ujar Ferry.

Kebencian dan sakit hati yang membelenggu Ferry selama bertahun-tahun telah Tuhan pulihkan. Saat ini Ferry bekerja melayani orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan.

"Kalau saya mengingat dosa-dosa saya dulu, saya pernah menyakiti wanita, saya juga kecewa dengan mama saya, saya minder dan merasa tidak mampu serta tidak percaya diri, tapi setelah kenal Tuhan Yesus, saya punya percaya diri. Saya tahu ada suatu rencana Tuhan dalam hidup saya," ujar Ferry menutup kesaksiannya. (Kisah ini ditayangkan 20 Juli 2010 dalam acara Solusi Life di O'Channel).(source)
Sumber Kesaksian :
Ferry Pardede

Pemulihan Sang Anak Buangan

Berasal dari keluarga yang kurang mampu, sewaktu kecil Komen harus menyaksikan orang tuanya terpaksa menyerahkan adiknya yang baru lahir untuk diasuh oleh bidan yang menolong ibunya.
Komen mengingat masa lalunya yang pahit.
"Orang tua saya sangat susah. Mesti melaut dulu baru dapat makanan. Kalau tidak melaut ya tidak makan."
Suatu hari Komen menyaksikan kejadian yang membuat dirinya sangat terpukul. Sebagai anak 6 tahun yang masih polos, dia menyaksikan perselingkuhan mamanya. Komen melihat mamanya tidur dengan pria lain.
"Saat itu saya mau buang air kecil. Letaknya (kamar mandi) itu kan di ruang tamu. Kebetulan ada saudara, ga tau saudara darimana......Ngapain mereka??? Adik saya, koko saya, mereka tidak ada yang tahu. Saya ga ngerti...."

Komen tidak mampu untuk bertanya. Semuanya hanya disimpan di dalam hati.
"Mama saya jahat. Kenapa mama saya berbuat seperti itu. Dan itu menimbulkan trauma. Pikiran saya aneh-aneh jadinya".
Sejak kecil Komen tidak pernah merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Bahkan ketika mamanya meninggal, Komen harus dipisahkan dari keluarganya. Ayahnya yang merasa tidak mampu merawat Komen, meminta pamannya membawa Komen ke Jakarta. Komen merasa mendapat perlakuan yang berbeda.

"Kenapa kok saya.....yang dititip-titipin itu kok saya???? Bukannya adik saya yang perempuan atau koko saya".

Tinggal bersama keluarga paman di Jakarta membuat Komen harus menjalani kehidupan yang keras. Tahun demi tahun, hal yang lebih menyakitkan mulai datang. Tanpa alasan yang jelas, sepupu-sepupunya sering memukuli Komen.

"Setiap paginya, saya harus mengepel. Itu sudah wajib harus saya lakukan. Saya ngepel, baru saya main atau pergi semir sepatu." "Saya dipukul....itu biasa. Sering saya dapat."

Kalau malam, kakak sepupu Komen dan teman-temannya suka merokok. Supaya tidak diketahui oleh orang tuanya, mereka melakukannya di atas plafon rumah jam 1 atau jam 2 malam. Kalau mereka kehabisan rokok, Komen dibangunkan dengan paksa oleh kokonya hanya untuk membeli rokok.
"Saya benci mereka dan saya mau balas dendam supaya mereka juga susah. Kalau bisa ya sampai dia mati".

Komen hanya disekolahkan sampai kelas 1 SD. Setelah putus sekolah, Komen memutuskan untuk mencari uang sendiri dengan menjadi penyemir sepatu.

"Lihat orang tuh enak amat....Anak-anak seumuran saya tuh enak mereka. Mereka sekolah, apa yang mereka inginkan itu paling tidak sudah ada. Sedangkan saya itu kok susah banget. Uang hasil semir sepatupun kadang-kadang masih suka diambilin sama mereka (kokonya) tanpa sepengetahuan saya. Saya tidak tahu persisnya.....saya kan tidur jadi uang itu saya sembunyiin tapi tiba-tiba uang itu sudah tidak ada".

Mendapat perlakuan yang sewenang-wenang selama bertahun-tahun membuat Komen tertekan. Bagi Komen, hidup bagaikan di penjara. Di umur 11 tahun, Komenpun memutuskan untuk bunuh diri.

"Saya tidak tahu saya ini nantinya mau jadi apa. Sama sekali tidak ada bayangan untuk hidup saya. Waktu itu pokoknya ingin loncat dari gedung yang sangat tinggi."

Tapi sebelum Komen meloncat, dia terbayang dengan orang yang dia lihat bunuh diri kemarin. Orang itu loncat dari gedung dan dengan mata kepalanya sendiri dia melihat kepala orang itu hancur dan meninggal dengan tragis.
"Tapi kenapa bunuh diri itu ga jadi.....saya ngeliat ada orang ngeloncat juga, bunuh diri. Jadi ga jadi untuk bunuh diri."

Di umur 15 tahun Komen bekerja di toko perhiasan. Saat itulah pamannya justru mengusirnya karena menganggap Komen sudah dapat menghidupi dirinya sendiri. Dengan membawa baju seadanya, Komen mendatangi tempat bossnya dan akhirnya boss Komen menawarkan Komen untuk tinggal disana.

"Saya di sana hanya jadi office boy. Yang beres-beresin bangku, lap-lap kaca kalau kaca etalase itu kotor, saya bersihin. Terus kalau ada customer yang mau bersihin perhiasannya, itu biasanya saya yang kerjain. Kalau ada waktu senggang, boss saya itu support saya. Dia mau supaya saya juga bisa jadi perajin perhiasan".

Setelah mampu menghasilkan uang, Komen terjerumus ke dalam kehidupan malam. Judi dan pornografipun dijelajahinya. Bahkan setelah menikahpun, kebiasaan-kebiasaan buruk itu tidak ditinggalkannya. Namun akhirnya Komen mengalami titik balik di dalam hidupnya sampai akhirnya dia mengenal siapa itu Tuhan ketika seorang teman mengajaknya untuk menghadiri sebuah kelas bimbingan.

"Di pertemuan itu saya ambil komitmen mengenai seks....ternyata itu dosa katanya... Onani itu juga dosa... Akhirnya saya ambil komitmen saya mau coba yang lebih bener aja."

Pemulihan terhadap masa lalunya dialami Komen di sebuah pertemuan.
"Jadi di situ saya dikasih tahu bagaimana kita punya kepahitan, terus luka batin, dan saya dikasih pilihan mau atau tidak untuk mengampuni. Saya diingatkan lagi ke masa lalu saya. Di situ saya ambil komitmen, ya Tuhan, saya mau mengampuni mereka dengan sepenuh hati saya. Jadi beban itu tidak ada lagi di hati saya. Tadinya punya pikiran mau membalas saudara saya, kepahitan sama orang tua saya, tapi disitu saya dilepasin .... bebas."

Pengampunan telah membawa perubahan yang nyata dalam hidup Komen. Komen mendatangi kokonya untuk meminta maaf atas dendam yang pernah dirasakannya terhadap kokonya. Tak ada lagi trauma masa lalu dan juga ketakutan akan masa depan.

"Saya ikut apa yang Tuhan inginkan. Saya ikutin... dan ternyata dengan latar belakang pendidikan saya yang kurang tapi ternyata Tuhan bisa pulihkan. Tuhan itu luar biasa tuntun hidup saya. Saya memiliki rumah dan juga keluarga yang saling mengasihi. Jadi saat ini yang saya dapat, Tuhan itu baik sekali." (Kisah ini ditayangkan 22 Juli dalam acara Solusi Life di O'Channel)

Kolose 3:13 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.(source)

Sumber Kesaksian:
Komen

Wilan, Si Kupu-Kupu Malam

Kehidupan malam kujalani
Aku pertama kali menjadi pelacur pada usia 15 tahun. Penghasilan yang kudapatkan adalah 40% - 60%, maksudnya aku menerima 40%, sedangkan "mami" mendapat bagian 60% dari bayaranku. Aku sudah tidur dengan banyak laki-laki dari berbagai kalangan dan hal ini terus kujalani sampai usiaku yang ke 19 tahun. Aku juga terjerat dalam dosa pergaulan bebas, minum-minuman keras, narkoba, dan juga seks bebas. Dalam hati kecilku sedikit terbesit betapa kotornya hidupku. Aku berusaha mencari jati diri di tempat yang salah. Namun karena tuntutan kehidupan yang keras, aku tetap menjalani kehidupan malamku ini.
Penyebab aku menjadi kupu-kupu malam

Aku dibesarkan dari sebuah keluarga broken home. Ayah dan ibuku bercerai, lalu masing-masing menikah lagi, dan aku serta kakakku tinggal bersama Oma kami. Tapi perlakuan Oma padaku berbeda dengan perlakuan Oma pada kakak. Aku sering "dianaktirikan", sering dicerca, dicaci maki, dan dihajar oleh Oma, sedangkan Oma selalu membanggakan kakak. Aku berpikir apakah karena aku ini jelek mangkanya Oma membenciku.

Karena tidak tahan dengan perlakuan Oma, aku ikut ke Palembang dengan orang yang pernah kos di rumah Oma. Disana aku membantunya membereskan rumah. Namun karena keadaan keluarganya tidak baik dan sering bertengkar, selalu aku yang dijadikan sasaran kemarahan. Akhirnya setelah 3 tahun di sana, aku kembali ke rumah Oma. Ternyata di rumah Oma, aku tetap diperlakukan seperti dulu.

Akhirnya aku memutuskan tinggal di rumah ayahku. Tapi ternyata kehidupan di sana juga tidak lebih baik. Aku "di anak tirikan" oleh ayah kandungku sendiri. Aku bahkan difitnah menyakiti adik tiriku. Aku sangat benci pada ayahku saat itu juga. Akhirnya karena tekanan-tekanan itulah aku memutuskan menjadi "kupu-kupu malam" sebagai pelampiasan kekesalanku. Padahal orang tuaku adalah orang yang berkecukupan.

Memasuki dunia rumah tangga

Suatu hari karena kecerobohanku, aku dinyatakan positif hamil. Namun pria yang menghamiliku tidak mau bertanggung jawab. Akhirnya aku menikah dengan tetangga dekat rumahku karena ia sangat mencintaiku. Tapi rumah tangga kami berantakan. Suamiku bukanlah tipe orang yang bertanggung jawab. Bahkan ia tetap menjadi pengangguran sampai-sampai aku tetap menjadi pelacur demi memenuhi kebutuhan keluarga. Ketika anakku lahir, aku memutuskan bercerai darinya.

Satu tahun kemudian, tahun 1976, aku menikah dengan Edy, pria yang dikenalkan sahabatku. Pergaulan bebas yang kujalani membuatku menjadi seorang yang berkarakter keras namun Edy selalu mengalah padaku. Ia tipe suami yang baik. Karena itulah sifat kerasku semakin menjadi-jadi. Pernikahan kami dikaruniai 4 orang anak namun aku tetap menjalani kehidupan bebasku sehingga aku menelantarkan suami dan anak -anakku.

Tetap tidak bertobat

Bahkan di usiaku yang ke-49 tahun, aku tetap keluar masuk diskotik. Berkali-kali aku hampir OD (Over Dosis), tapi aku tetap tidak kapok juga. Seringkali saat aku OD dan hampir mati, aku mendengar suara- suara yang berkata, "Bukalah matamu..." Namun aku mengacuhkannya. Sampai suatu kali saat aku OD, aku jatuh di tengah diskotik dan ada suara yang berkata, "Lihatlah sekelilingmu..." dan aku melihat pemandangan yang sangat mengerikan. Orang-orang yang ada di sana berubah menjadi sangat menyeramkan, tidak mempunyai tempurung kepala dan mereka semua bertanduk. Wajahnya sangat menyeramkan. Aku tidak merasa takut saat itu, hanya sedikit drop dan aku memutuskan duduk di tepi panggung.

4 Oktober 2005, ketika sedang berada di dalam diskotik, aku sekali lagi mendengar suara yang berkata, "Pulanglah atau engkau akan terhilang..." Aku merasa sangat takut dan memutuskan tidak akan pernah ke diskotik lagi.

Akhirnya aku sadar akan dosa - dosaku

Sejak saat itu aku tiba-tiba menyadari bahwa dosaku sangatlah parah. Pasti hidupku sangat hancur dan tidak berkenan di hadapan Tuhan. Saat itu juga aku sadar bahwa ternyata selama ini suara-suara itu adalah teguran dariNya padaku. Aku langsung menangis meminta pertolongan dan pengampunan dari Tuhan. Aku tidak ingin masuk ke dalam perapian kekal, aku ingin bebas lepas dari ikatan maut ini. Aku menyalibkan kedaginganku dan aku memikul salibku serta mengikut Yesus dalam hidupku. Aku mulai aktif ke gereja dan mengikuti Family Altar.

Tanggal 19 Mei 2006 aku mengikuti sebuah retreat pemulihan. Di sana, ketika didoakan, aku memperoleh penglihatan sebuah hati berwarna biru dan beku seperti es. Ternyata itu adalah hatiku. Saat itu aku sangat membenci keluargaku. Aku menyimpan dendam yang amat dalam kepada mereka. Tapi berkat kasih dan kekuatan yang luar bisa dariNya, aku tiba-tiba dapat mengampuni ayah, ibu, dan Omaku yang telah melukai hatiku. Saat itu juga aku melihat bahwa tangan Tuhan menyentuh hatiku, menggenggamnya, lalu mengubah hatiku yang beku menjadi cair dan berwarna merah terang. Lalu Tuhan mencabut hatiku yang penuh dengan kepahitan itu sampai ke akarnya. Aku dapat merasakan betapa sakitnya dadaku ketika akar kepahitan di hatiku dicabut oleh tanganNya. Aku menangis merasakan sakitnya. Namun setelah itu aku merasakan damai sukacita yang begitu luar biasa. Tuhan benar-benar telah memulihkan hatiku dan juga hidupku.

Hubungan keluargaku dipulihkan

Sepulangnya dari retreat tersebut kehidupan keluargaku berubah drastis. Hubunganku dengan suami dan anak-anakku dipulihkan. Aku meminta maaf sambil menangis dan memeluk mereka satu per satu. Tuhan memang baik. Ia memberikan kasih di hati suami dan anak-anakku sehingga mereka bisa memaafkanku. Semua berjalan dengan luar biasa. Penuh kasih, damai sejahtera, dan sukacita. Kini aku selalu menyempatkan diri untuk meluangkan waktu bersama suami dan anak-anakku. Bahkan aku juga kini melayani di gerejaku. Syukur bagi kebaikanNya, kini aku benar-benar menjadi hambaNya yang taat dan setia dalam seluruh area kehidupanku. (Kisah ini telah ditayangkan 26 Juli 2010 dalam acara Solusi Life di O'Channel).(sumber)
Sumber Kesaksian :
Wilan

Selasa, 01 Juni 2010

Kesempatan Hidup dari Tuhan

Kesaksian oleh NN – Jakarta
Ini adalah pengalaman hidup saya di kota besar Jakarta ini. Benar kata pepatah orang tua, Injaklah ibukota dan jangan ibukota menginjak kami. Banyaknya tempat hiburan dan juga bebasnya pergaulan membuat setiap orang bisa terlena sama glamour dan hingar bingarnya kehidupan ini.

Enam tahun sudah saya merantau dari daerah dan bekerja di salah satu perusahaan swasta didaerah pinggiran ibukota ini. Perusahaan ini termasuk kecil dengan jumlah karyawan tidak lebih 100 orang termasuk stafnya, Saya bekerja sebagai staf kantor dengan tugas mengontrol kinerja karyawan pabrik.
*courtesy of PelitaHidup.com
Gaji yang kami terima sungguh sangat kecil walaupun perusahaan ini adalah penanaman modal asing 100%. Namun fasilitas kantor yang banyak membuat kami betah untuk bekerja. Siapa saja bisa menggunakan line telepon tanpa terkontrol, juga pemakaian komputer untuk keperluan pribadi serta printer yang bisa dipakai sepuasnya.
Jam kerja di kantor pun tak terbatas, namun aturan 40 jam seminggu kerja tetap dilaksanakan. Biasanya hingga larut malam kami masih sibuk di kantor tetapi bukan untuk urusan kantor, namun sibuk dengan kegiatan masing masing, seperti menelpon siapa saja, main game, ber-internet ria hingga membuka situs-situs porno.
Untuk hal yang terakhir itu, saya termasuk salah seorang yang suka melakukannya. Saya betah berlama-lama di depan internet membaca cerita maupun membuka gambar yang berbau pornografi. Saya terlena dengan chatting di dunia maya hingga terpengaruh dengan cerita kehidupan sesama jenis di internet.
Pikiran itu terus membayangi pikiran saya, hingga tidak pernah terlintas untuk mencari pacar wanita, meskipun keluarga dan teman selalu menanyakan siapa pacar saya.
Dunia maya terus menguasai hidup saya, hampir setiap hari saya selalu menyempatkan diri untuk membuka situs-situs tersebut serta chatting dengan laki-laki yang juga menyukai sesama jenis. Berawal dari ngobrol di internet kemudian dilanjutkan di dunia nyata atau kopi darat. Kehidupan seperti itu aku jalani terus tanpa seorang pun mengetahuinya.
Saya masuk ke dalam kehidupan dengan sesama jenis lebih dalam lagi.
*courtesy of PelitaHidup.com
Dari tempat itu saya sampai ke tempat kost agak siang, terus tidur, dan bahkan jadi jarang kegereja karena ketiduran sehabis dugem.Saya sudah sangat terpengaruh sekali dengan kehidupan seperti itu.
Tetapi hati kecil saya selalu sedih melihat saya, saya selalu berdoa agar Tuhan Yesus menguatkan saya untuk tidak terlibat dalam pergaulan bebas itu, saya selalu berdoa. Tetapi saya tidak pernah kuat, meminta ampun kepada-Nya. tapi besoknya melakukan seperti itu lagi. Sungguh saya merasa seperti orang najis yang tidak tahan menahan nafsu duniawi.
*courtesy of PelitaHidup.com
Saya pergi dari satu gereja ke gereja yang lain hanya sekedar berdoa agar saya kuat menahan godaan ini. Hampir lima tahun saya jatuh dalam godaan itu dan karir dipekerjaan saya juga stagnan, tak pernah naik naik. dibandingkan dengan teman saya yang sama sama masuk kerja kini telah menjadi manager dan menjadi atasan saya. Saya sendiri dari pertama masuk kerja sampai saat itu tetap dengan posisi semula.
Setiap malam saya selalu berdoa agar saya dilepaskan dari keterikatan nafsu tersebut. Namun begitu selesai berdoa beberapa hari kemudian saya melakukannya lagi.
Menjelang perpisahan tahun 2008 ke tahun 2009 sehabis acara di gereja saya jalan jalan ke kawasan monas sekedar melihat pertunjukan kembang api atau keramaian. Tepat pukul 00.00 seharusnya saya dengan saudara saya yang sudah berkeluarga yang tinggal di Bekasi seharusnya berdoa , melakukan ibadah syukur kepada Tuhan, dan saling memaafkan dengan sesama anggota keluarga maupun dengan orang tua yang tinggal dikampung. Tetapi itu tidak saya laksanakan saya pergi ke tempat dugem tempat biasa yang sering saya kunjungi. Disana saya melakukannya lagi dengan sesama jenis.
*courtesy of PelitaHidup.com
Sepulang dari tempat itu sudah siang hari dan tanggal satu januari tanpa pergi beribadah ke gereja. Awal tahun 2009 saya sudah berkomitmen untuk tidak melakukan dosa itu serta mulai hidup baru, namun sama seperti tahun tahun sebelumnya saya berkomitmen namun di tengah jalan komitmen itu kalah dengan nafsu saya.
Akhir Januari 2009 seperti biasa ketika libur saya pergi ke warnet plus-plus. Sore itu saya balik dari warnet itu dan ditengah jalan protokol ibukota ini saya tabrakan. Motor yang saya kendarai tidak apa apa, namun kaki kiri saya patah. Untungnya saya masih memakai helm sehingga kepala saya aman dari benturan keras dengan aspal.
Saya langsung dilarikan ke rumah sakit, lalu malam itu juga dibawa ke pengobatan alternatif patah tulang. Saya dirawat disana hampir dua bulan.
Saya merenungi setiap malam selama dirawat. Inikah peringatan Tuhan kepada saya supaya saya tidak melangkah lagi ketempat tempat seperti itu. Puji Tuhan, Dia selalu mendengar doa saya, dengan kejadian tabrakan itu saya diingatkan bahwa kaki ini harus melangkah ke jalan yang benar. Tuhan telah menuntun aku agar aku kembali ke jalan yang benar. Teman -teman saya datang mendoakan saya agar kesembuhan terjadi pada saya.
Kini lima bulan sejak kejadian itu saya tidak bisa berbuat apa-apa selain tidur dirumah dan melakukan pengobatan. Tetapi sekali lagi puji Tuhan Yesus kini saya sudah bisa mulai berjalan lagi, Sedikit demi sedikit, walaupun masih dalam proses pengobatan tapi mujijat itu nyata, kesembuhan terjadi dalam kaki saya.
Terimakasih Tuhan atas berkat dan jalan yang Kau beri. Agar saya tidak melakukan hal hal seperti dahulu lagi. Kini saya harus mulai lagi dari bawah tentang karir dan jodoh saya. Namun saya yakin dan percaya Tuhan selalu mendengar doa doa saya.Hari esok pasti lebih cerah dan lebih banyak lagi berkat Tuhan yang akan diberi.
Terimakasih Tuhan atas kesempatan hidup yang Engkau berikan kepada saya.
Untuk kita semua agar saling memperhatikan perilaku kehidupan anggota keluarga kita atau saudara saudara yang kita cintai. Karena saya melihat begitu banyak orang yang terjerumus ke dunia yang tidak benar itu. Terimakasih, Tuhan memberkati.(sumber)

Pemulihan dalam Pernikahan

Kesaksian oleh AS.
Saya adalah seorang suami yang telah menikah selama 6 tahun, selama waktu itu kehidupan pernikahan kami naik turun. Setelah saya mengikuti camp pria maka saya menyadari dan mangakui bahwa selama ini saya tidak menjalankan fungsi saya sebagai seorang suami. Saya bukan suami yang suka main tangan dengan istri dan anak2 saya. Tapi kadang kala perkataan saya yang sinis dan tidak membangun istri dan anak2 sering keluar dari mulut saya.

Dua tahun sebelum saya mengikuti camp ini istri saya cerita bahwa dia pernah mengasihi seorang pria. Betapa terpukulnya saya pada saat itu. Rasa marah dan sedih bercampur dalam hati. Saya berusaha untuk menahannya, tetapi rasa sakit itu tetap saja ada dalam hatiku. Saya berusaha melupakan kejadian tersebut dan mengampuni istri saya.
*courtesy of PelitaHidup.com
Waktu terus berlanjut sampai mengikuti camp pria. Ternyata saya yang salah selama ini yang menyebabkan istri saya mulai melirik pria lain. Ketika saya pulang dari camp saya mengakui segala kesalahan saya sebagai suami yang tidak menjalankan fungsinya dengan baik (sebagai imam). Kemudian istri saya mengaku kepada saya dan menceritakan bahwa dia tidak hanya pernah mengasihi pria lain tapi lebih dari itu. Hubungan mereka sudah mengarah lebih dalam lagi.
Betapa semakin hati saya hancur mendengar semua keterbukaan istri saya. Dengan saling menangis saya katakan kepada istri saya tersebut bahwa semua adalah salah saya. Sebagai suami saya harus bertanggungjawab dengan hal tersebut. Walaupun tidak semudah untuk menerima itu semua tapi saya berserah kepada Tuhan bahwa hidup saya mau maksimal sehingga dosa apapun yang terjadi saya harus buang jauh-jauh.
Akhirnya istri saya mengirimkan e-mail kepada pria itu dan mengatakan kepadanya bahwa dia telah menyadari kekeliruannya selama ini. Emailnya-pun di-cc-kan (tembusan) kepada saya.
Saya sangat bangga dengan istri saya dan bersyukur setelah saya mengakui segala kesalahan saya maka perubahan demi perubahan terjadi di dalam kehidupan pernikahan kami. Istri saya semakin dipakai Tuhan dalam pelayanannya, saya pun dipakai Tuhan sungguh luar biasa dalam pelayanan dan pekerjaan.
Saya harus berfungsi sebagai kepala dan istri sebagai lehernya. Inilah kesaksian pertama saya di media ini semoga ini menjadi berkat bagi orang yang membacanya.(sumber)

Minggu, 23 Mei 2010

Tangan Tuhan melindungiku dari kecelakaan motor ( Kesaksian Ardhy)


By Ardhy
Sebab Aku ini, Tuhan Allahmu, memegang tangan kananmu dan berkata epadamu : "Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau." (Yesaya 41:13) "Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung padaNya ( Mazmur 18:31b ) dan Kau berikan kepadaku perisai keselamatanMu, tangan kananMu menyokong aku. ( Mazmur 18:36a )
Shallom,
Perkenalkan nama saya Ardhy, saya berasal dari Jogja. Sekarang saya beribadah di Gereja Rumah Doa Segala Bangsa (RDSB ) Magelang. Puji Nama Tuhan, kali ini saya ingin bersaksi betapa Ajaib dan Dasyatnya Allah yang kita sembah di dalam Nama Tuhan Yesus Kristus. KasihNya, KuasaNya dan PerlindunganNya yang saya alami begitu amat sangat sempurna.
Kejadian ini kami alami pada hari Jumat,5 Februari 2010.Saat itu saya bersama ayah saya berboncengan sepeda motor hendak pergi ke Wates,Kulon Progo, Yogyakarta. Kami berdua berangkat dari Jogja pukul 08.30 WIB.

Sebelum berangkat, saya berdoa dahulu kepada Allah di Dalanm Nama Tuhan Yesus agar dapat sampai tujuan maupun pulang kembali ke rumah dengan selamat. Saya teringat pengajaran yang diberikan Ibu Penatua Dorcas Daud , bahwa kita juga bisa mengutus bala tentara malaikat surga untuk melindungi & menjagai kita. Hal ini termasuk pengalaman baru bagi saya pribadi, dikarenakan dulu saya berasal dari latar belakang keturunan non Kristen.
Setelah selasai berdoa, kamipun berangkat. Saat berangkat tidak ada perasaan apa-apa bahkan yakin perlindungan Allah pasti menyertai kami. Kami berangkat berboncengan dengan laju kendaraan rata-rata 60-70km/jam.Saat itu memang situasai jalan, khususnya jalan menuju Wates relatif agak sepi, karena jam sibuk berangkat kantor/sekolah telah lewat..Saat itu memang sempat ada bisikan dihati dengan lembut bilang... "hati-hati...."
Saya yakin itu adalah suara Roh Kudus.Namun saya belum tahu akan terjadi apa nanti.Saya terus berhati-hati. Kejadian ini terjadi sebelum kami sampai di perbatasan Kulon Progo- Wates, tepatnya sebelum daerah tugu potlot. Saat kendaraan kami melaju antara 60km/jam, tiba-tiba dari arah berlawanan muncul bis besar angkutan antar propinsi yang melaju kencang. Saat itu bis menyalip mobil di depannya sampai bis itu benar-benar memenuhi badan jalan. Badan jalan benar-benar habis dipenuhi bis dan mobil yang disalipnya. Kejadian itu benar-benar terjadi secara cepat dalam hitungan detik, sementara kami juga sedang melaju dari arah berlawanan.Dalam pikiran sempat terlintas...pasti tabrakan. Akan tetapi Puji Nama Tuhan, mustahil bagi manusia akan tetapi tidak bagi Allah,. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil ( Lukas 1:37 ).
Dalam waktu hitungan sekian detik itu juga motor saya seperti membelok secara otomatis, meskipun harus turun dari badan jalan.Meski antara badan jalan dengan tanah ada jarak yang agak tinggi, dan tanah samping aspal itu tidak rata dan ada batu-batunya..motor saya harus terseok-seok tapi tidak terjatuh...Halleluya!
Dengan kecepatan seperti itu sepertinya sangat mustahil motor saya tidak terjatuh yang saya rasakan saat itu seperti ada kekuatan yang memegang sisi kiri-kanan motor sehingga motor sampai tidak sampai jatuh..Saya yakin, kalo tidak ada campur tangan Allah saat itu, kami sudah terjatuh.Motor saya tetap berjalan, dan kami ( saya dan ayah ) tetap berada di atas motor dengan selamat.
Saat itu saya bisa merasakan bahwa campur tangan Allah begitu sempurna, sehingga membuat kami selamat terbebas dari kecelakaan. Saya sangat bersyukur, bahwa di dalam Yesus, keselamatan itu sendiri bisa saya rasakan dan alami sendiri. Bahwa Kasih dan KuasaNya serta perlindunganNya sungguh amat sangat sempurna. Keselamatan yang Allah Bapa sendiri berikan di dalam Nama Tuhan Yesus, tidak hanya berbicara tentang keselamatan nanti disurga.
"Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan,dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan."( Roma 10:9 ).
Keselamatan juga berlaku dan terjadi saat ini selama kita masih hidup di dunia,dan juga nanti, dalam arti hidup kekal di surga, hidup bersatu dengan Yesus Sang Juruselamat, serta Allah Bapa dan Roh Kudus. Jika Saudara belum menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi,maka :
1. Akui dengan mulut saudara :
Ucapkan : "Yesus, Engkaulah Tuhanku dan Juruselamatku."
2. Percaya dalam hati bahwa Allah telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, serta hidup di dalamNya, hidup menurut ajaran firmanNya. Kita pasti mendapat keselamatan.
Yesus rela mati di kayu salib demi saudara dan saya. Dosa-dosa kita telah lunas dibayar oleh darahNya dan kini Yesus hidup, sebab Allah telah membangkitkanNya dari antara orang mati.
Tidak ada jalan yang lain menuju keselamatan, selain melalui Yesus. "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku ( Yohanes 14:6 )
Hanya Yesus satu-satunya jalan untuk memperoleh keselamatan itu sendiri, baik di bumi maupun di kehidupan kekal nanti di surga.
"Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia ( Yesus ); sebab dibawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehNya kita dapat diselamatkan ( Kisah Para Rasul 4:12 )
Puji Nama Tuhan, akhirnya kami berdua sampai di tempat yang kami tuju dengan selamat dan pulang kembali ke rumah dengan selamat.
Saudara,firman Tuhan itu Ya dan Amin.Saya diteguhkan lagi pada firman Tuhan di Mazmur 28:8 Tuhan adalah kekuatan umatNya dan benteng keselamatan bagi orang yang diurapiNya.
Di Gereja Rumah Doa Segala Bangsa ( RDSB ), lewat pelayanan Ibu Penatua Dorcas Daud, saya menerima pengurapan demi pengurapan baik melalui KKR maupun pada saat ibadah di Gereja atau saat berdoa secara pribadi.Bahkan pada saat mendengar khotbah Ibu Pnt. Dorcas Daud di Radio juga saya merasa sangat terberkati dan terurapi.
Terima kasih kepada Allah Bapa di Surga, Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus atas Kasih, Kuasa, dan Perlindungan yang begitu amat sangat sempurna. Dialah perisai keselamatan bagi kita yang berlindung padaNya.
Terima kasih kepada Ibu Pnt. Dorcas Daud atas semua pelayanannya sehingga membuat iman ini semakin bertumbuh sehingga mengalami terobosan iman serta mukjizat demi mukjizat di dalam Tuhan Yesus.
Terima kasih juga pada semua pengerja Gereja RDSB Magelang yang selalu setia dan bersemangat dalam melayani Tuhan. Semoga kesaksian ini memberkati semua orang yang membacanya. Terima kasih, Tuhan Yesus memberkati, Amin.(sumber)

Senin, 17 Mei 2010

Kesempatan Hidup dari Tuhan

Kesaksian oleh NN – Jakarta
Ini adalah pengalaman hidup saya di kota besar Jakarta ini. Benar kata pepatah orang tua, Injaklah ibukota dan jangan ibukota menginjak kami. Banyaknya tempat hiburan dan juga bebasnya pergaulan membuat setiap orang bisa terlena sama glamour dan hingar bingarnya kehidupan ini.
Enam tahun sudah saya merantau dari daerah dan bekerja di salah satu perusahaan swasta didaerah pinggiran ibukota ini. Perusahaan ini termasuk kecil dengan jumlah karyawan tidak lebih 100 orang termasuk stafnya, Saya bekerja sebagai staf kantor dengan tugas mengontrol kinerja karyawan pabrik.
*courtesy of PelitaHidup.com
Gaji yang kami terima sungguh sangat kecil walaupun perusahaan ini adalah penanaman modal asing 100%. Namun fasilitas kantor yang banyak membuat kami betah untuk bekerja. Siapa saja bisa menggunakan line telepon tanpa terkontrol, juga pemakaian komputer untuk keperluan pribadi serta printer yang bisa dipakai sepuasnya.

Jam kerja di kantor pun tak terbatas, namun aturan 40 jam seminggu kerja tetap dilaksanakan. Biasanya hingga larut malam kami masih sibuk di kantor tetapi bukan untuk urusan kantor, namun sibuk dengan kegiatan masing masing, seperti menelpon siapa saja, main game, ber-internet ria hingga membuka situs-situs porno.
Untuk hal yang terakhir itu, saya termasuk salah seorang yang suka melakukannya. Saya betah berlama-lama di depan internet membaca cerita maupun membuka gambar yang berbau pornografi. Saya terlena dengan chatting di dunia maya hingga terpengaruh dengan cerita kehidupan sesama jenis di internet.
Pikiran itu terus membayangi pikiran saya, hingga tidak pernah terlintas untuk mencari pacar wanita, meskipun keluarga dan teman selalu menanyakan siapa pacar saya.
Dunia maya terus menguasai hidup saya, hampir setiap hari saya selalu menyempatkan diri untuk membuka situs-situs tersebut serta chatting dengan laki-laki yang juga menyukai sesama jenis. Berawal dari ngobrol di internet kemudian dilanjutkan di dunia nyata atau kopi darat. Kehidupan seperti itu aku jalani terus tanpa seorang pun mengetahuinya.
Saya masuk ke dalam kehidupan dengan sesama jenis lebih dalam lagi.
*courtesy of PelitaHidup.com
Dari tempat itu saya sampai ke tempat kost agak siang, terus tidur, dan bahkan jadi jarang kegereja karena ketiduran sehabis dugem.Saya sudah sangat terpengaruh sekali dengan kehidupan seperti itu.
Tetapi hati kecil saya selalu sedih melihat saya, saya selalu berdoa agar Tuhan Yesus menguatkan saya untuk tidak terlibat dalam pergaulan bebas itu, saya selalu berdoa. Tetapi saya tidak pernah kuat, meminta ampun kepada-Nya. tapi besoknya melakukan seperti itu lagi. Sungguh saya merasa seperti orang najis yang tidak tahan menahan nafsu duniawi.
*courtesy of PelitaHidup.com
Saya pergi dari satu gereja ke gereja yang lain hanya sekedar berdoa agar saya kuat menahan godaan ini. Hampir lima tahun saya jatuh dalam godaan itu dan karir dipekerjaan saya juga stagnan, tak pernah naik naik. dibandingkan dengan teman saya yang sama sama masuk kerja kini telah menjadi manager dan menjadi atasan saya. Saya sendiri dari pertama masuk kerja sampai saat itu tetap dengan posisi semula.
Setiap malam saya selalu berdoa agar saya dilepaskan dari keterikatan nafsu tersebut. Namun begitu selesai berdoa beberapa hari kemudian saya melakukannya lagi.
Menjelang perpisahan tahun 2008 ke tahun 2009 sehabis acara di gereja saya jalan jalan ke kawasan monas sekedar melihat pertunjukan kembang api atau keramaian. Tepat pukul 00.00 seharusnya saya dengan saudara saya yang sudah berkeluarga yang tinggal di Bekasi seharusnya berdoa , melakukan ibadah syukur kepada Tuhan, dan saling memaafkan dengan sesama anggota keluarga maupun dengan orang tua yang tinggal dikampung. Tetapi itu tidak saya laksanakan saya pergi ke tempat dugem tempat biasa yang sering saya kunjungi. Disana saya melakukannya lagi dengan sesama jenis.
*courtesy of PelitaHidup.com
Sepulang dari tempat itu sudah siang hari dan tanggal satu januari tanpa pergi beribadah ke gereja. Awal tahun 2009 saya sudah berkomitmen untuk tidak melakukan dosa itu serta mulai hidup baru, namun sama seperti tahun tahun sebelumnya saya berkomitmen namun di tengah jalan komitmen itu kalah dengan nafsu saya.
Akhir Januari 2009 seperti biasa ketika libur saya pergi ke warnet plus-plus. Sore itu saya balik dari warnet itu dan ditengah jalan protokol ibukota ini saya tabrakan. Motor yang saya kendarai tidak apa apa, namun kaki kiri saya patah. Untungnya saya masih memakai helm sehingga kepala saya aman dari benturan keras dengan aspal.
Saya langsung dilarikan ke rumah sakit, lalu malam itu juga dibawa ke pengobatan alternatif patah tulang. Saya dirawat disana hampir dua bulan.
Saya merenungi setiap malam selama dirawat. Inikah peringatan Tuhan kepada saya supaya saya tidak melangkah lagi ketempat tempat seperti itu. Puji Tuhan, Dia selalu mendengar doa saya, dengan kejadian tabrakan itu saya diingatkan bahwa kaki ini harus melangkah ke jalan yang benar. Tuhan telah menuntun aku agar aku kembali ke jalan yang benar. Teman -teman saya datang mendoakan saya agar kesembuhan terjadi pada saya.
Kini lima bulan sejak kejadian itu saya tidak bisa berbuat apa-apa selain tidur dirumah dan melakukan pengobatan. Tetapi sekali lagi puji Tuhan Yesus kini saya sudah bisa mulai berjalan lagi, Sedikit demi sedikit, walaupun masih dalam proses pengobatan tapi mujijat itu nyata, kesembuhan terjadi dalam kaki saya.
Terimakasih Tuhan atas berkat dan jalan yang Kau beri. Agar saya tidak melakukan hal hal seperti dahulu lagi. Kini saya harus mulai lagi dari bawah tentang karir dan jodoh saya. Namun saya yakin dan percaya Tuhan selalu mendengar doa doa saya.Hari esok pasti lebih cerah dan lebih banyak lagi berkat Tuhan yang akan diberi.
Terimakasih Tuhan atas kesempatan hidup yang Engkau berikan kepada saya.
Untuk kita semua agar saling memperhatikan perilaku kehidupan anggota keluarga kita atau saudara saudara yang kita cintai. Karena saya melihat begitu banyak orang yang terjerumus ke dunia yang tidak benar itu. Terimakasih, Tuhan memberkati.(SUMBER)

Minggu, 16 Mei 2010

Berkat Bagi Yang Memilih Jalan Tuhan


Berkat Bagi Yang Memilih Jalan Tuhan“TUHAN, Allahmu, harus kamu ikuti, kamu harus takut akan Dia, kamu harus berpegang pada perintah-Nya, suara-Nya harus kamu dengarkan, kepada-Nya harus kamu berbakti dan berpaut.” Ulangan 13.4
Sejak manusia diciptakan, iblis berusaha untuk menipu manusia agar jatuh ke dalam dosa dan kehilangan berkat yang Tuhan sediakan. Hal itu berlangsung terus hingga sekarang, dan tidak akan berhenti hingga waktunya bagi si iblis telah habis. Iblis begitu berpengalaman dalam hal menipu manusia. Dia mempunyai pengalaman ribuan tahun, sehingga jika kita tidak berpegang teguh kepada FirmanNya, maka kita akan dengan mudah terperangkap oleh tipu muslihat si iblis.

Banyak sekali cara yang dapat digunakan oleh iblis untuk mengecoh kita, yaitu melalui kenikmatan harta yang berlimpah-limpah, kenyamanan atas posisi atau jabatan tertentu, pengakuan oleh orang banyak, dan masih banyak lagi tawaran-tawaran yang membuat kita berkompromi dengan dosa. Si iblis selalu menawarkan jalan pintas bagi kita untuk memperoleh semuanya itu, tetapi pada akhirnya kita akan terjerat dengan perangkapnya yang membawa kepada maut.
*courtesy of PelitaHidup.com
Tuhan Allah yang kita sembah bukanlah Tuhan yang tidak sanggup membuat kita diberkati dengan segala kelimpahan baik secara rohani maupun jasmani. Tetapi Tuhan kita Yesus Kristus, sanggup memberikan semua berkat sorgawi bagi kita yang setia kepadaNya.
Mungkin kita tidak sabar menunggu jawaban dari Tuhan. Tetapi Tuhan tidak berdiam begitu saja atas semua penderitaan yang kita alami. Dia akan memberikan jalan keluar bagi kita tepat pada waktunya. Dia telah merancang rencana yang indah bagi hidup kita.
Jika kita memilih untuk mencari jalan pintas atas masalah atau kemauan kita yang ingin cepat kaya, cepat dapat posisi atau jabatan, ingin cepat lepas dari kesusahan, dan kita menghalalkan cara-cara yang kotor di hadapan Tuhan; maka kita akan kehilangan rencana yang indah yang telah Tuhan sediakan bagi kita.
Sayang sekali jika kita mengorbankan semuanya itu hanya untuk kenikmatan sesaat, tetapi berujung kepada maut. Awalnya mungkin tidak kita sadari, tetapi itulah siasat iblis dalam menipu dan menjerat kita, sehingga pada akhirnya kita kehilangan berkat dari Tuhan.
.*courtesy of PelitaHidup.com
Apa yang harus kita lakukan agar kita tidak kehilangan rencana Tuhan yang indah?
1. “TUHAN, Allahmu, harus kamu ikuti, kamu harus takut akan Dia“
Dari awal kita harus menentukan sikap dan pilihan, bahwa kita memilih untuk mengikut Tuhan. Jika kita sudah menentukan sikap dari awal, maka iblis tidak akan bisa berbuat apa-apa. Tentukan sikap kita, perkatakan bahwa kita mengikut Yesus, deklarasikan kepada si iblis bahwa kita memilih jalan Tuhan. Dan akui Yesus dengan hidup takut akan Dia. Jauhi dosa dan jangan kompromi dengan dosa. Tidak ada yang disebut kebohongan untuk kebaikan. Dosa kecil tetaplah dosa. Pilihan kita akan menentukan jalan hidup kita.
Pilihan akan jalan Tuhan akan membawa kita kepada rancangan damai sejahtera.
*courtesy of PelitaHidup.com
2. “Kamu harus berpegang pada perintah-Nya, suara-Nya harus kamu dengarkan“
Iblis tidak akan berhenti mempengaruhi pikiran kita dengan segala macam hal-hal yang negatif. Jika hidup kita tidak dipenuhi dengan Firman Tuhan, maka kita akan menjadi sasaran empuk bagi iblis. Penuhi hidup kita dengan FirmanNya. Baca dan renungkan Alkitab setiap hari. Dengar dan lakukan apa yang telah kita baca. Dengan begitu Firman Tuhan akan mendominasi hidup kita, sehingga segala tipu muslihat iblis dapat dipatahkan oleh kuasa Firman Tuhan.
3. “Kepada-Nya harus kamu berbakti dan berpaut“
Ibadah tidak terbatas kepada kebaktian yang diadakan di gereja saja. Ibadah yang sejati adalah pola kehidupan kita seutuhnya. Ketika kita menjalani hari-hari kita dengan langkah yang sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan, kita mengandalkan Yesus dalam memutuskan suatu hal/tindakan, kita senantiasa mengasihi sesama kita, kita tidak kompromi dengan dosa, kita membawa Yesus dalam tiap langkah hidup kita, setiap saat, kapan saja dan di manapun kita berada, maka itulah yang disebut dengan ibadah yang sejati.
Ketika kita senantiasa berpaut kepada Yesus, iblis tidak akan bisa menjerat kita, karena kita ada dalam perlindungan Tuhan.
*courtesy of PelitaHidup.com
Oleh karena itu, pilihlah jalan Tuhan sehingga kita akan menerima segala berkat kelimpahan yang telah disediakan bagi kita yang setia kepadaNya..
“Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi.
Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu:
Diberkatilah engkau di kota dan diberkatilah engkau di ladang.
Diberkatilah buah kandunganmu, hasil bumimu dan hasil ternakmu, yakni anak lembu sapimu dan kandungan kambing dombamu.
Diberkatilah bakulmu dan tempat adonanmu.
Diberkatilah engkau pada waktu masuk dan diberkatilah engkau pada waktu keluar.
TUHAN akan membiarkan musuhmu yang maju berperang melawan engkau, terpukul kalah olehmu. Bersatu jalan mereka akan menyerangi engkau, tetapi bertujuh jalan mereka akan lari dari depanmu.
TUHAN akan memerintahkan berkat ke atasmu di dalam lumbungmu dan di dalam segala usahamu; Ia akan memberkati engkau di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.
TUHAN akan menetapkan engkau sebagai umat-Nya yang kudus, seperti yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepadamu, jika engkau berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, dan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya.
Maka segala bangsa di bumi akan melihat, bahwa nama TUHAN telah disebut atasmu, dan mereka akan takut kepadamu.
Juga TUHAN akan melimpahi engkau dengan kebaikan dalam buah kandunganmu, dalam hasil ternakmu dan dalam hasil bumimu–di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepadamu.
TUHAN akan membuka bagimu perbendaharaan-Nya yang melimpah, yakni langit, untuk memberi hujan bagi tanahmu pada masanya dan memberkati segala pekerjaanmu, sehingga engkau memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tetapi engkau sendiri tidak meminta pinjaman.
TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia,
dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya.” Ulangan 28:1-14. (SUMBER)

CARA PANDANG TERHADAP BEBAN HIDUP


Bukan berat Beban yang membuat kita Stress, tetapi lamanya kita memikul
beban tersebut.
Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress, Stephen Covey
mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya: "Seberapa berat menurut anda kira segelas air ini?"
Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr."Ini bukanlah masalah
berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya." kata Covey.
"Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya.Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat."

"Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan
mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya." lanjut Covey.
"Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi".
Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi.
Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sore ini, tinggalkan beban pekerjaan. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok. Apapun beban yang ada dipundak anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa. Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi.
Hidup ini singkat, jadi cobalah menikmatinya dan memanfaatkannya...!! Hal
terindah dan terbaik di dunia ini tak dapat dilihat, atau disentuh, tapi dapat dirasakan jauh di relung hati kita.(Isak Rickyanto)(SUMBER)
Start the day with smile and have a good day........

KUNCI PERTAMA BERKAT


Manusia berusaha mendapatkan.
Allah berusaha memberi. Memberi adalah caraNya Tuhan.
Hidup dalam jalanNya Tuhan berarti menjadi seorang pemberi.
Cara dunia untuk mengumpulkan dan meningkatkan uang, pakaian, harta miliki,
rumah, tanah dan bisni adalah dengan MENDAPATKAN.

Matius 6:31-33
Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan?
Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari
bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga
tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. TETAPI CARILAH dahulu Kerajaan
Allah dan kebenarannya, maka SEMUANYA ITU AKAN DITAMBAHKAN KEPADAMU.
Dalam kerajaan Allah, Yesus Kristus kelihatannya tidak punya masalah kalau
kita mempunyai segala hal yang di sebut di atas.
Akan tetapi Dia memberikan pernyataan bagaimana caranya untuk memperoleh
semua itu, bukan dengan MENDAPATKAN tetapi dengan MEMBERI.
Memberi adalah memberi.
Memberi itu bukan membayar seseorang untuk apa yang sudah dikerjakannya.
Memberi itu bukan menaruh sesuatu di tangan seseorang dengan ketentuan dia
harus melakuan sesuatu.
Memberi itu bukan meminjamkan.
Memberi itu adalah melepaskan sama sekali kendali tentang sesuatu hal
kepada orang lain, sehingga mereka bisa melakukan apa pun yang mereka suka kepada
barang yang diberikan.
Kekayaan sejati tidak diukur dari apa yang yang dipunyai seseorang, tetapi
bagaimana mereka memberi dibanding apa yang mereka miliki.
Semua orang bisa memberi sesuatu. Kita termasuk orang kaya kalau kita bisa
memberi sesuatu. Bahkan benda yang paling sederhana pun bisa menjadi suatu
pemberian bagi orang lain. Kalau kita bertemu dengan orang yang tidak bisa
tersenyum, kita bisa memberikan senyum kita kepadanya.
Hidup kita akan menjadi petualangan dalam memberi, bukannya pergumulan
untuk mendapat.
Oleh : Pdt Daniel P. Martono
Dikutip Cerita-Kristen dari sebuah mailing list

Jumat, 14 Mei 2010

Menghadapi Masalah Dengan Ucapan Syukur


Ucapan syukur adalah suatu sikap hati, yang berisi kepasrahan kepada kehendak Allah yang sempurna sambil tak henti-hentinya fokus kepada kebaikan Tuhan dan bukan kepada masalah atau musibah yang dialami. Menghadapi musibah dengan rasa syukur adalah tindakan yang mengatakan bahwa TUHAN itu baik, telah meluputkan dari musibah yang lebih besar lagi.
Mazmur 136:23-25 Dia yang mengingat kita dalam kerendahan kita; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Dan membebaskan kita dari pada para lawan kita; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Dia yang memberikan roti kepada segala makhluk; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.

Saat melalui sebuah kecelakaan besar yang membuat saya terjatuh dari lantai dua dan membuat kaki saya patah menjadi tiga bagian, saya selalu mengatakan, “Puji Tuhan. Tuhan baik. Tuhan tahu apa yang terbaik bagi anak-anakNya. Dia telah meluputkan saya dari musibah yang lebih besar lagi yang mungkin akan terjadi di waktu depan.” Karena dalam minggu itu kami sedang merencanakan akan mengadakan ret-ret. Tak terbayangkan jika saat berangkat ret-ret karena kaki saya sehat lalu ternyata musibah besar datang seperti misalnya mobil yang kami tumpangi kecelakaan. Pasti penderitaan yang lebih hebat lagi yang saya alami.
Maka bertemu siapa saja baik lewat telpon, sms ataupun yang sengaja datang ke rumah saya selalu tunjukkan wajah penuh sukacita. Saya tidak mau bersedih dengan kecelakaan yang saya alami. Saya tidak mau menyalahkan TUhan. Saya juga meski dalam hati menginkan cepat terjadi kesembuhan namun menyerah pada kehendak Tuhan yang sempurna. Jika harus dua bulan terbaring, ayo saya jalani. Karena hidup saya ini adalah dari TUHAN dan Tuhan yang hidup dalam saya maka apapun yang terjadi sudah pastilah dalam rencana Tuhan yang sempurna. Menolak terjadinya suatu musibah bahkan komplain berkepanjangan atas suatu persoalan merupakan bentuk pembangkangan dan pemberontakan dari kehendak TUHAN. Dan itu ujung-ujungnya adalah penderitaan yang lebih besar lagi akan dialami.
Inilah yang dialami Hizkia seorang raja Israel yang takut akan Tuhan. Dia sangat mengikuti semua ketetapan Tuhan dan Tuhan memberkatinya. Namun suatu kali dia diberitahu oleh Nabi Yesaya bahwa dia akan mati, ia sangat sedih dan menentang kehendak Tuhan yang sempurna terjadi atas hidupnya.
Pada hari-hari itu Hizkia jatuh sakit dan hampir mati. Lalu datanglah nabi Yesaya bin Amos, dan berkata kepadanya: "Beginilah firman TUHAN: Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi." Lalu Hizkia memalingkan mukanya ke arah dinding dan ia berdoa kepada TUHAN: "Ah TUHAN, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapan-Mu dengan setia dan dengan tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di mata-Mu." Kemudian menangislah Hizkia dengan sangat. (2 Raja-raja 20:13)
Bukannya Hizkia bersyukur bahwa sebentar lagi dia akan bertemu Tuhan di surga, malahan dia meminta Tuhan memperpanjang umurnya. Kematian Hizkia sudah digariskan Tuhan. Dan apa yang digariskan itu tidaklah sembarangan. Tuhan memiliki pengetahuan jauh ke depan akan apa yang akan terjadi ratusan tahun bahkan ribuan tahun di depan Hizkia. Harusnya dia berterimakasih dan bersiap-siap menghadapi hari yang harus dialami semua orang itu. Tapi Hizkia memelas-melas sambil membangkitkan ingatan mengenai kebaikan-kebaikan yang dibuatnya dulu.
Membangkitkan ingatan akan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan ini merupakan senjata ampuh menawar apa yang Tuhan sudah gariskan. Kebanyakan kita akan berkata,”Aduh Tuhan ingat dong saya sudah melayani puluhan tahun, dari tidak ada jemaat hingga ada ribuan. Tolonglah saya.” Kita membangkit-bangkitkan semua ingatan tentang apa yang baik yang kita perbuat seolah-olah Tuhan itu pelupa. Padahal semua itu hanyalah karena kita memiliki hati yang memberontak pada sang Pencipta.
Sebagai ciptaan kita mesti sadar bahwa kalau kita ada ini karena diciptakanNya. Maka kalaupun terjadi suatu persoalan, musibah bahkan kematian semuanya adalah suatu rencana Tuhan yang sempurna. Kita mesti menerimanya dengan lapang tanpa berpikir mengenai kejahatan dalam diri Tuhan yang mengijinkan itu terjadi. Tuhan tidak jahat, malahan Dia hendak menghindarkan kita dari suatu malapetaka dahsyat yang akan terjadi di kemudian hari dengan adanya suatu masalah.
Hizkia ditetapkan akan mati. Tapi dia tidak mau terima. Dia ditetapkan harus segera chek out dari dunia ini namun ia memilih melawan titah Tuhan itu. Alhasil, Tuhan mengijinkan dia tetap hidup, namun justru kehidupannya itu membawa bencana yang sangat besar bagi Israel dan segenap keturunannya.
Pada waktu itu (setelah Hizkia sembuh) Merodakh-Baladan bin Baladan, raja Babel, menyuruh orang membawa surat dan pemberian kepada Hizkia, sebab telah didengarnya bahwa Hizkia sakit tadinya. Hizkia bersukacita atas kedatangan mereka, lalu diperlihatkannyalah kepada mereka segenap gedung harta bendanya, emas dan perak, rempah-rempah dan minyak yang berharga, gedung persenjataannya dan segala yang terdapat dalam perbendaharaannya. Tidak ada barang yang tidak diperlihatkan Hizkia kepada mereka di istananya dan di seluruh daerah kekuasaannya.
Kemudian datanglah nabi Yesaya kepada raja Hizkia dan bertanya kepadanya: "Apakah yang telah dikatakan orang-orang ini? Dan dari manakah mereka datang?" Jawab Hizkia: "Mereka datang dari negeri yang jauh, dari Babel!" Lalu tanyanya lagi: "Apakah yang telah dilihat mereka di istanamu?" Jawab Hizkia: "Semua yang ada di istanaku telah mereka lihat. Tidak ada barang yang tidak kuperlihatkan kepada mereka di perbendaharaanku."
Lalu Yesaya berkata kepada Hizkia: "Dengarkanlah firman TUHAN! Sesungguhnya, suatu masa akan datang, bahwa segala yang ada dalam istanamu dan yang disimpan oleh nenek moyangmu sampai hari ini akan diangkut ke Babel. Tidak ada barang yang akan ditinggalkan, demikianlah firman TUHAN. Dan dari keturunanmu yang akan kauperoleh, akan diambil orang untuk menjadi sida-sida di istana raja Babel."
Kesehatan yang diperoleh Hizkia dari pemberontakan dari kehendak Allah yang sempurna menyebabkan dia takabur dan sombong. Berkat seringkali membuat orang lupa diri. Mereka lupa bahwa semua itu anugrah Tuhan, maka mereka menghambur-hamburkan dan menyombongkan diri diatasnya. Padahal itu adalah tindakan jahat di muka Tuhan. Hizkia telah sehat namun dia berubah menjadi tinggi hati. Dia memperlihatkan semua isi kerajaan dan kekayaannya dengan bangga seolah-olah semua hasil kerja kerasnya tapi itu justru mendatangkan kutukan bagi keturunan dan rakyatnya di masa depan.
Coba dia ijinkan kematian menjemput seperti titah Tuhan. Coba ia tidak membangkang. Coba ia tidak memberontak. Coba ia menerima dengan syukur atas semua yang Tuhan sudah atur. Pastilah tidak akan terjadi kesombongan seperti itu. Pemberontakan memang melahirkan banyak dosa yang tidak disadari menuntu kepada kehancuran.
Sikap komplain dan tidak mau terima atas apa yang terjadi dalam hidup kita adalah suatu pemberontakan. Dan pemberontakan itu selalu berujung kepada kebinasaan. Seharusnya anda menyanyi, berdoa, dan pasrah pada Tuhan saat musibah datang. Sikap ini adalah sikap hati terbaik yang diharapkan Tuhan ada dalam hati setiap anakNya.
Ini sejalan dengan apa yang Alkitab katakan di 1 Tesalonika 5:18, ”Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. (Hendra Kasenda)(SUMBER)

Ada Lintah di Hidung Anakku


Kesaksian ini diawali oleh liburan anak-anak kami ke air terjun Kapulaga, Ciater tanggal 4 Juli 2009 yang lalu. Karena pertimbangan medan yang sulit, Saya dan Esther, isteri saya, memutuskan tidak ikut rekreasi yang diadakan Sekolah Minggu GUP Bandung tersebut. Daripada di sana kami harus mengejar-ngejar Christopher (2,5 tahun) yang sedang aktif-aktifnya bereksplorasi. Tetapi kami mengijinkan kedua putri kami, Christela (9 tahun) dan Christabela (7 tahun) ikut bersama teman-temannya dalam persekutuan sehari tersebut.

Semua berjalan seperti biasa ketika tiba-tiba hari Selasa, tanggal 14 Juli, kami mendapati Tata, nama panggilan untuk Christabela, mimisan sepulang sekolah. “Mungkin panas dalam,” begitu kami mengambil kesimpulan awal waktu itu. Memang diantara ketiga anak kami, hanya Tata yang pernah mimisan. Menurut dokter pembuluh darah di hidungnya agak rapuh, jadi mudah pecah dan mimisan. Jadi kami memberinya minuman yang mencegah panas dalam dan juga kapsul berisi cacing gelang tumbuk yang biasanya kami pakai untuk mengobati anak-anak kami ketika mereka radang tenggorokan atau panas dalam.
Keesokan harinya saya terkejut ketika mendapati Tata bangun dengan hidung penuh darah kering. “Mungkin kurang kalsium dan vitamin C,” kami mengambil kesimpulan berikutnya setelah mencari info sana–sini.Kami tidak terlalu kuatir karena Tata tetap aktif, bermain dan bertengkar dengan kakak dan adiknya, seperti biasa. Apalagi ketika kami melihat bahwa mimisan itu hanya terjadi di satu lubang hidung saja, yaitu lubang hidung sebelah kiri, tanpa disertai demam atau tanda-tanda lain yang mengkhawatirkan. Jadi kami memberinya tablet kalsium dan vitamin C.
Hari berikutnya, setelah bangun, saya bergegas menyalakan lampu kamar anak-anak untuk memeriksa hidung Tata. Saya lega karena tidak ada bekas darah di sana. Hanya saja ada bekas darah yang mungkin bercampur ingus (atau lendir, tepatnya) di bantalnya. “Hm, obatnya mulai bekerja,” saya bergumam sambil mengganti sarung bantalnya.
Hari Jumat pagi, saya kaget ketika Tata bangun dengan hidung dan pipi penuh darah kering. Sebelum berangkat sekolah, istri saya membersihakn hidung Tata sekali lagi. ”Itu masih ada darah keringnya,“ katanya sambil menyekakan tissue di lubang hidungnya.
“Ta jangan diisep….Tu khan masuk lagi,” rupanya istri saya kesulitan menarik “benda” yang dikiranya sebagai darah kering di lubang hidung kiri Tata.
“Tata enggak isep kok, Mi..” Tata berkilah.
“Ya sudah, jangan lupa bawa tissue!”
“Mau ke dokter? Eh, hari ini ga bisa. Saya ngajar sampai malam.” Kebetulan hari Jumat acara saya cukup padat.
Jumat malam itu saya dapat info bahwa salah seorang keponakan saya ternyata waktu kecil juga sering mimisan. “Terus gimana Ci? Ke dokter? Apa kata dokter?“ Saya bertanya kepada kakak saya. “Wah bingung juga," kata dokter ini begini, kata dokter itu begitu. Tapi sembuh sendiri rasanya.” Begitu jawaban yang saya terima.
Hari Sabtu pagi kami ke Jakarta karena ada anak saudara yang menikah. Kemudian hari Minggu dan Senin kami berlibur ke Cipanas, Garut. Walaupun Tata sempat beberapa kali mimisan tapi secara keseluruhan kami menikmati liburan kami. Pada saat itu ada seorang teman lain memberi info” Pakai air minum beroksigen. Katanya ada anak yang sering mimisan waktu minum air tersebut selama seminggu atau beberapa hari, jadi sembuh, tidak mimisan lagi.” Kami mengikuti saran tersebut. Kami memberi Tata air minum beroksigen.
Hari Rabu tanggal 22 Juli, Esther bertemu dengan temannya yang kebetulan mempunyai 2 anak yang sering mimisan ”Setiap hari, kadang-kadang mimisannya pagi dan sore. Yang besar pernah dibawa ke dokter, maklum kitanya panik. Maklum anak pertama. Apalagi Papahnya. Ga boleh aja anaknya pusing sedikit. Harus langsung ke dokter. Sama dokter THT cuma dikasih multivitamin. Tidak berapa lama, sembuh sendiri. Jadi waktu yang kecil mimisan juga, ya kita sudah tahu. Jadi kita kasi multivitamin aja kayak cicinya,” begitu info yang diterima istri saya. Karena itu kami juga memberikan multivitamin kepada Tata.
Beberapa hari kemudian, Tata masih terus mimisan, tapi jumlah darah yang keluar relatif sedikit dan hanya sebentar. Biasanya begitu dilap dengan tissue, darahnya langsung berhenti. Seingat kami hanya sekali darahnya keluar agak lama. Tapi waktu kami menempelkan es batu di batang hidungnya, darhanyapun langsung berhenti. Kami mulai memberitahu beberapa teman dekat kami meminta dukungan doa untuk Tata.
Hari Jumat malam tanggal 24 Juli. Ketika kami sedang bercengkerama di ruang tamu, tiba-tiba Tata mimisan. Saya segera mengambil tissue. Waktu saya mengelap hidungnya, saya kaget karena “benda” yang semula saya kira gumpalan darah tiba-tiba bergerak masuk lagi. “Jangan-jangan lintah” saya berbisik kepada isteri saya “Ah nggak mungkin! Lintah dari mana?” sanggah Esther yang tidak kalah terkejut mendengar bisikan saya.
Saya mengajak Tata ke kamar supaya bisa mengadakan observasi dengan lebih enak. Sementara isteri saya segera menelpon seorang kenalan untuk meminta pendapatnya.”Kayanya bukan lintah. Mungkin cuman darah beku aja, karena kata Om Yakub, lintah itu ukurannya sebesar jempol pria dewasa”, Esther menyampaikan pendapat yang baru saja didengarnya sambil berusaha menenangkan dirinya.
Tapi kenyataan yang saya lihat dikamar sama sekali berbeda. Dalam posisi tidur, benda itu tiba tiba keluar dan bergerak melawan gravitasi, mengarah ke atas Segera saya searching di internet tentang mimisan dan lintah di lubang hidung, dan menemukan pada di Wikipedia: "Penyebab lokal terutama trauma, sering karena kecelakaan lalulintas, olah raga, (seperti karena pukulan pada hidung)yang disertai patah tulang hidung(seperti pada gambar di halaman ini),mengorek hidung yang terlalu keras sehingga luka pada mukosa hidung, adanya tumor di hidung, ada benda asing (sesuatu yang masuk ke hidung) biasanya pada anak-anak, atau lintah yang masuk ke hidung, dan infeksi atau peradangan hidung dan sinus (rinitis dan sinusitis)…”
“Ya ampun!!! Tuhan apa yang harus kulakukan?" Saya berdoa dalam hati dan segera searching tentang cara mengeluarkan lintah dari hidung dan menemukan caranya di internet, yaitu dengan memancingnya dengan gelas berisi air.
Segera saya mengambil air dengan gelas dan mendekatkannya ke hidung Tata. “Lho, buat apa?“ tanya Esther keheranan. “Kamu baca aja di computer” dan benar ekor lintah itu menjulur sepanjang 1 cm menuju ke dalam gelas. Astaga! Saya berusaha menangkapnya, tapi dengan gesit lintah itu masuk kembali ke hidung Tata. ”Ta… Berdoa Ta! Ada lintah di hidung Tata! Minta Tuhan Yesus mengeluarkannya!” Agak panik saya memberi tahu anak saya. Saat itu juga Tata menangis ketakutan. Disusul dengan Christela yang sambil menangis langsung berteriak histeris,”Cepat panggil dokter! Ayo Pi! Telpon dokter! Sekarang!”
“Tenang, ci! Belum tentu lintah koq. Mending kamu berdoa aja! Minta Tuhan Yesus menyembuhkan mimisan Tata” kata Esther sambil mulai membaca artikel yang ada di layar monitor.
“Tolong ambil garam. Taruh di tissue. Ntar kalo lintahnya keluar langsung ditangkep pake tissue itu!” Saya mencoba cara lain untuk melumpuhkan lintah itu. Saya meminta Esther membantu. Walaupun ia nampak ketakutan, ia mencoba melakukannya.Tapi ketika ekor lintah itu keluar, ternyata usaha kami gagal lagi. Malah kali ini garamnya berhamburan ke kasur dan lantai kamar anak-anak.
“Harus pakai cara lain, nih. Tapi apa ya…. “ Saya berusaha mencari cara lain untuk mengeluarkan lintah itu
“Aneh darimana ya lintahnya?” Esther berguman sambil menelpon Lily, salah seorang teman kami, “Li, tolong bantu doa ya, di hidung Tata ada lintahnya……Apa?…. Iya…. Hah? Dari Kapulaga? Jadi?…. Sebesar biji beras?”
Sementara itu saya mengambil botol semprot yang biasanya dipakai untuk parfum refill, kebetulan kami punya satu yang belum dipakai. Saya isi dengan larutan garam pekat. Dengan tujuan menyemprot lintah itu ketika ia keluar. “Rasakan! Kali ini saya pasti tidak akan kalah cepat!” pikir saya dalam hati.
“Kata Lily, lintahnya berasal dari Kapulaga. Di sana banyak lintah kecil-kecil, sebesar biji beras. Malah guru-guru sekolah minggu pada ngebersihin anak-anak sesudah mereka main air. Katanya pada nempel di kaki, paha, malah ada yang masuk ke mulut segala… Mungkin Tata kelewat…” isteri saya melaporkan info mengejutkan yang membuat semuanya menjadi masuk akal. Waktu itu Lily memang ikut ke Kapulaga.
“Tapi Tata ga maen di tempat itu” kata Tata
“Atau waktu kamu jatuh mungkin, kamu khan kepleset waktu jalan di batu-batu itu khan? Sampai bajunya basah semua,“ sambung Christela.
“Mama, Inget nggak, beberapa hari setelah ke Kapulaga, Tata sempat bilang ada sesuatu di gusinya dan kita bilang bahwa itu mungkin sariawan.” Saya mencoba merangkaikan fakta.
“Jadi masuknya dari mulut?”
“Terus waktu pagi-pagi, sebelum Tata sekolah, kamu pernah membersihkan hidung Tata. Ada darah kental yang susah sekali dibersihkan. Pasti itu ekor lintah yang masih agak kecil” Saya mencoba mengingatkan Esther, bahwa ia pernah melihat ekor lintah itu sebelumnya.
“Sekarang dia sudah membesar, Tadi khan sudah kira-kira satu setengah centi ekornya yang keluar. Ayo kita coba lagi! Ntar kalo dia nongol kamu semprot ya” Saya memberi instruksi sambil mendekatkan gelas berisi air itu ke hidung Tata.
Tak lama kemudian ekor lintah itu kembali terjulur. Dengan sigap Esther menyemprotkan larutan garam itu. Kontan lintah itu masuk lagi ke lubang hidung Tata dan mengeluarkan buih tanda kesakitan.“Tissue. Minta tissue, Tata mau buang ingus”
Begitu selesai buang ingus, ekor lintah itu muncul lagi. Rupanya ia terdorong ketika Tata buang ingus. “Semprot lagi, Mi!” Lagi lagi lintah itu masuk kembali meninggalkan buih yang memenuhi lubang hidung Tata. Memaksa Tata membuang ingusnya lagi. Hal ini berulang beberapa kali sampai Tata kecapaian dan jatuh tertidur.
Esther menelpon Ika, sahabatnya yang tinggal di Surabaya. Cukup lama mereka berdiskusi. “Ika mengingatkan ayat di Kejadian 1:26, bahwa manusia diberi kuasa atas binatang bahkan dengan tegas dikatakan binatang melata yang merayap di bumi. Jadi mestinya lintah itu bisa kita perintahkan supaya keluar. Bukannya anti dokter atau apa. Saya hanya ingin kita melakukan apa yang Tuhan mau. Bayangkan dari sekian banyak anak, kenapa ini terjadi pada anak kita, pasti Tuhan punya maksud dan mau memberkati keluarga kita.”
Dalam diskusi lanjutan yang kami lakukan malam itu, kami dingatkan kembali beberapa hal. Yang pertama adalah dalam tinggal tenang terletak kekuatan kita. “Entah kenapa seakan saya mendengar pujian yang berkata: di saat badai bergelora kuakan terbang bersamaMu… Kutenang sbab Kau Allahku “ kata Esther waktu itu. Dalam hati saya mengaminkan perkataan isteri saya. Biasanya Esther adalah seorang yang mudah panik. Khususnya jika menghadapi hal-hal yang berkenaan dengan anak-anak.
Kedua kotbah Pst Jeffry Rachmat (JPC Jakarta) yang pernah kita dengar. Waktu itu beliau memberi ilustrasi tentang kopor miliknya (atau barangkali Handphone?) yang bermerk “A” sebut saja begitu. Seandainya kopor atau handphone itu rusak, alangkah bijaksananya kalau kita memperbaikinya di tempat service resmi untuk merk “A” tersebut. Karena mereka tahu technologinya dan juga punya semua sparepartnya. Dalam hal ini kami dingatkan bahwa Tata adalah milik Tuhan. Bukan cuma anak kami semata, tapi dia adalah juga anak Tuhan Yesus. Karena itu tidak salah jika kami menyerahkannya kepada Sang Bapa Maha Kasih sekaligus Pencipta segalanya. Dia tahu betul “tekhnologi”-nya dan juga punya semua “sparepart” yang diperlukan!
Berikutnya kami dingatkan melalui kotbah Bpk Pdt Daniel Aleksander. menurut beliau seharusnya kita memiliki roh yang kuat yang senantiasa bersekutu dengan Tuhan, 24 jam dalam sehari. Itu bisa dilakukan, karena roh kita tidak pernah tidur sehingga kita bisa menikmati 1 Tesalonika 5:16 – 18, yaitu bersukacita, berdoa, mengucap syukur senantiasa dan dalam segala hal! Dan tidak seharusnya kita didominasi oleh jiwa yang kuat. Karena jiwa yang kuat akan membuat kita berpikir seandainya begini gimana…. seandainya begitu gimana secara terus menerus yang akan membuat kita stress berlebihan.
Yang terakhir kami dingatkan tentang pengalaman kami pada tahun 1997. Waktu itu Esther mengalami hamil kosong. Usia kandungannya kurang lebih 4 minggu. Dokter berkata agar Esther segera dikiret untuk membuang kantong kehamilannya yang kosong. Waktu itu kami memutuskan untuk menunda dan meminta waktu, karena kami mau berdoa meminta kasih karunia Tuhan, supaya Esther tidak perlu dikiret. Dokter memberi waktu 2 minggu. Ternyata benar, Tuhan melimpahkan anugerahnya. Kantong kehamilan itu keluar sendiri dan Esther tidak perlu dikiret.
Jadi malam itu kami mulai mengarahkan doa-doa kami supaya lintah itu keluar sendiri. Kami memerintahkannya untuk tidak berkembang biak. Kami memerintahkannya untuk keluar atau mati!
Kami mulai menghubungi beberapa teman, meminta dukungan doa mereka. Ada yang secara spontan mendukung, Ada juga yang menyarankan lebih baik ke dokter. "Kami tidak anti dokter. Tapi coba kita pikirkan. Kalu ada orang sakit parah, misalnya kanker. Biasanya akan dibawa ke dokter dulu. Baru setelah dokternya angkat tangan, mereka membawanya kepada Tuhan. Jadi Tuhan menjadi pilihan terakhir. Kami tidak mau seperti itu. Kami mau membawa Tata kepada Tuhan lebih dulu, tapi kami tetap terbuka, kalau memang Tuhan mengarahkan kami ke dokter. Kami pasti akan ke dokter. Jangan salah paham, ya."
"Lho emangnya kalo kamu melahirkan misalnya, kamu ga akan ke dokter? Kamu ngelahirin aja sendiri, gitu? Pasti kamu minta bantuan dokter khan?"
"Iblis saja bisa diperintahkan Tuhan untuk keluar dari seseorang, apalagi ini hanya lintah! Bagi Tuhan hal itu adalah hal yang sangat mudah"
"Kayaknya Kejadian 1:26 itu berlaku untuk binatang yang ada di luar tubuh kita deh. Kalau lintah itu ada di tanah, kita bisa matiin dengan ditaburi garam misalnya atau air tembakau. Kalau anak kita cacingan, khan kita kasi obat cacing untuk mengeluarkannya..."
"Wajar dong kalau kita bawa anak kita ke dokter untuk hal-hal yang serius seperti ini. Emangnya kalau kamu mau pakai baju hari ini, kamu tanya Tuhan dulu? Warnanya apa., modelnya yang mana?"
"Memang kalau kita ke dokter kayaknya pertolongan itu nyata. Segera. Tapi kalau menunggu Tuhan, kita ga tahu kapan pertolongan itu datang. Tapi kami ingin anak-anak mengalami bahwa kalau kita mengalami sesuatu, pertama kali harus kita bawa kepada Tuhan, bukan kepada yang lain. Khususnya Tata. Saya ingin dia mengalami bahwa Tuhan itu nyata. Bisa mendengar bahkan menjawab doa-doa kita. Saya ingat tahun lalu, waktu Tata masih kelas 1 SD. Saya pernah mengingatkan Tata untuk berdoa sebelum ulangan. Waktu itu Tata menjawab,’Emang Tuhan bisa membantu kita saat ulangan, Pi? Gimana caranya?’ Saya berkata: Pasti Tuhan mau membantu Tata. Tuhan bisa mengingatkan Tata hal-hal yang sudah Tata pelajari. Jawaban yang tadinya Tata tidak tahu atau lupa, tiba-tiba Tata ingat kembali”. Melalui pengalaman ini saya berharap ada sesuatu yang bisa Tata pelajari.
Hari-hari pergumulan kami berlanjut. Suatu saat, ketika lintah itu mulai menjulurkan ekornya, Christela langsung bernyanyi: "Dalam Nama Yesus, dalam Nama Yesus lintah keluarlah..." Lalu di saat lain, ketika lintah itu kami pancing dengan air, Christela membacakan ayat-ayat dalam kitab Mazmur. "Ayo Ci, baca yang keras, Ci!"
"Yang mana, Pi?" tanya Christela
"Mazmur 18"
“Untuk pemimpin biduan dari hamba Tuhan…”dengan penuh semangat Christela mulai membaca Mazmur 18. Saya bersyukur dalam hati, sambil tersenyum, ketika teringat betapa sering mereka bertengkar karena memperebutkan kursi mana yang akan mereka duduki, siapa yang akan mandi terlebih dahulu, atau masalah-masalah sepele lainnya, tapi dalam situasi seperti ini ternyata Christela menunjukkan kepedulian yang mendalam.
“Aduh capek, minum dulu ya….”
“Oke, Mami akan siapkan lagu pujian dari album Ir Niko, ya, ntar kalau kamu capai, kita puterin CD-nya dan kamu bisa istirahat. Tapi kalau sudah cukup istirahatnya, baca lagi ya ayat-ayat yang bisa menguatkan iman kita. Pokoknya kita harus terus berperang dengan penuh semangat! Sesudah minum, baca lagi ya, Chris….”
Kami juga memberi semangat kepada Tata, "Ayo, Tata harus kuat. Tata tahu khan tubuh Tata adalah Rumah Tuhan, tempat tinggalnya Tuhan Yesus, bukan tempatnya lintah. Tata harus usir lintahnya. Jangan diam aja. Nanti lintahnya makin betah lho, soalnya yang punya rumahnya diam aja. Pasti dia berpikir, ah yang punya rumahnya diam saja, berarti saya boleh tinggal di sini. Ayo tirukan Papi! Katakan: Dalam Nama Tuhan Yesus aku perintahkan lintah keluar! Tinggalkan tubuh Tata!" Tata mulai mengikuti kata-kata saya "Dalam Nama Tuhan Yesus aku perintahkan lintah keluar! Tinggalkan tubuh Tata!"
Sampai akhirnya hari Minggu tgl 2 Agustus, salah seorang teman kami yang mempunyai kenalan seorang dokter, tiba-tiba memberikan informasi, “Saya sudah sudah tanyakan dokter THT senior di Elim Medical Center, namanya Dr Sondang. Mungkin kami mau membawa Tata ke sana”.
“Baik, terima kasih infonya. Kami tetap terbuka pada pimpinan Tuhan. Kalau Dia memimpin kami untuk ke dokter, pasti kami akan ke dokter.”
Tidak lama sesudah itu, Ika, menelpon dari Surabaya. Ia berkata bahwa kemarin ia menceritakan permasalahan yang sedang kami hadapi kepada rekan-rekan pendoa yang dikenalnya. Dengan tujuan meminta bantuan doa. Tapi tiba-tiba salah seorang orang tua dari pendoa tersebut menelpon Ika dan menceritakan bahwa seorang kenalannya mengalami hal yang hampir sama dengan kami. “Jadi, sewaktu orang itu cuci muka di air terjun, matanya kemasukan lintah. Lalu dibawa ke dokter. Setelah dirontgen dan ketahuan letaknya bisa diambil koq. Sory, ternyata temenku cerita ke mamanya tentang permasalahan kamu. Terus baru saja aku ditelpon sama mamanya, ngomong begitu. Tapi ya terserah kalian, kalau tetap enggak mau ke dokter dan percaya bahwa lintah itu bisa keluar dengan sendirinya. Saya tidak bermaksud melemahkan iman kalian.”
Saya mengucapkan terima kasih kepadanya sambil berpikir, wah, sudah dua orang nih yang tiba-tiba saja berbicara tentang dokter secara spesifik kepada kami. Jangan-jangan Tuhan menghendaki kami membawa Tata ke dokter.
“Kalau begitu kita tidak sepakat, dong” Esther memulai diskusi kami yang ke sekian kalinya. ”Khan selama ini kita sudah mendoakan supaya lintahnya keluar sendiri. Tanpa bantuan dokter”
“Mungkin kita tidak sepakat dalam detilnya, tapi kita bisa sepakat untuk garis besarnya, yaitu bahwa lintah itu harus keluar. Dan dia tidak berkembang biak dalam tubuh Tata.”
Bagi saudara-saudari yang sering surfing di internet mungkin tahu tentang cerita seorang anak yang makan kangkung yang ada lintahnya. Anak itu meninggal karena lintah itu berkembang biak di perutnya. Terus terang, gambaran yang menyeramkan dari cerita itu sering menghantui kami. Saya pribadi selalu melawan ketakutan tersebut dengan memerintahkan lintah itu tidak berkembang biak dalam tubuh Tata.
“Lintah itu sudah sebulan di tubuh Tata. Kita sudah mendoakannya supaya keluar. Tapi kita juga terbuka, kalau Tuhan memimpin kita untuk ke dokter. Hari ini ada 2 orang yang secara spesifik menelpon kita untuk membawa Tata ke dokter. Saya percaya itu bukan kebetulan. Mereka khan tidak janjian. Satu di Bandung, satu lagi di Surabaya.” Saya menyampaikan pendapat saya.
“Oh ya, sebenarnya 3 orang lho, karena tadi waktu di gereja, saya bertemu dengan Edward. Waktu saya ceritakan keadaan Tata, dia langsung berkata, bawa saja ke dokter. Mungkin bagi dokter gampang untuk mengeluarkannya.”kata Esther
“Wah kalau begitu, kayaknya benar dong, kita harus membawa Tata ke dokter. Sudah 3 orang lho, yang ngomong tentang membawa Tata ke dokter sepanjang hari ini.”
Selama ini kami membayangkan Tata harus melewati serangkaian pemeriksaan yang rumit sebelum lintah itu bisa dikeluarkan. ”Kalau begitu kita akan doakan supaya besok lintahnya bisa dikeluarkan dengan mudah, tanpa harus melewati hal-hal yang aneh-aneh. Kita pasti bisa sepakat untuk hal ini, bukan?”
“Setuju!” Esther menyatakan kesepakatannya terhadap usulan saya.
“Memang mungkin bedanya tipis sekali antara apakah kita tidak mau ke dokter karena takut atau karena kita beriman bahwa Tuhan berkuasa untuk menyembuhkan kita. Tapi sekalipun kita melakukan kesalahan dalam hal ini, saya percaya Tuhan akan memberi kita kesempatan untuk memperbaikinya. Rasanya memang lebih menakjubkan kalau lintah itu keluar sendiri waktu kita doakan, tanpa harus ke dokter. Waktu kita menengking dan memerintahkan lintah itu untuk keluar, sementara Christela membaca ayat Firman Tuhan atau menyanyi Dalam Nama Yesus, tiba-tiba lintah itu keluar. Semua senang dan mungkin kita bisa berdalih itu untuk kemuliaan Tuhan. Kita bisa menyaksikannya di mana-mana. Tapi mungkin Tuhan punya maksud lain. Ya kita harus ikut Dia”
“Ya, seperti waktu saya mau dikiret, dulu, ga ke dokter karena takut atau karena beriman memang tipis banget bedanya. Dulu sih, terus terang, lebih banyak takutnya daripada karena beriman, gitu.”
“Tapi Tuhan baik banget, ya. Dia kabulkan doa kita. Kamu tidak perlu dikiret, dan semuanya beres.”
“Cuman untuk kasus lintah ini, khan kita tidak tahu kapan dia bisa berkembang biak, walaupun kita sudah berdoa dan memerintahkan agar lintah itu tidak berkembang biak, tapi mungkin kita perlu bertindak cepat. Lebih cepat lintah itu keluar, lebih baik.“
"Ok. Jadi besok kita bawa Tata ke dokter ya. Sore saja. supaya kita bisa coba lagi mengeluarkan lintah itu sendiri. Sekali lagi"
Hari Senin pagi, tanggal 3 Agustus, saya menelpon Elim Medical Center untuk menanyakan tentang dokter Sondang. "Dokter Sondang praktek hari ini, pak. Jam 16.00 sampai 18.00". Wah pertanda yang bagus, nih. Saya berkata dalam hati Semoga semuanya lancar.
Senin Siang, sesudah Tata pulang sekolah, sekali lagi kami mencoba memancing lintah itu dengan gelas berisi air. Ternyata tetap tidak bisa.
Jadi jam 14-an saya menelpon Elim Medical Center sekali lagi untuk mendaftarkan anak saya melalui telpon.
"Maaf, pak, untuk pemeriksaan dokter THT tidak bisa melalui telpon. Silahkan datang sebelum jam 16.00. Nanti Bapak bisa langsung daftar."
"Baik, pak. saya akan datang sebelum jam 16.00. Terima kasih."
Setelah bersiap-siap, saya dan Tata segera berangkat. Maklum tempat tinggal kami cukup jauh dengan Elim Medical Center. Kami naik motor, untuk menghindari kemacetan. Sebelumnya kami berkumpul untuk berdoa bersama. Kami memerintahkan lintah itu untuk "keluar dengan baik-baik" supaya Tata tidak perlu menjalani pemeriksaan yang rumit.
Kurang lebih jam 15.30 kami sampai ke Elim Medical Center. Saya segera menuju loket pendaftaran. " Aduh, maaf, dokter Sondang cuti, pak. Baru praktek lagi hari Kamis."
"Ya ampun! Tadi pagi saya telpon, menanyakan dokter Sondang. Katanya ada. Jam 14 tadi saya telpon lagi mau mendaftar. Katanya langsung datang saja. Kalau memang dokternya cuti kenapa tidak memberi tahu dari awal?"
"Maaf, pak mungkin operatornya tidak tahu. Jadi bagaimana, pak?"
"Ya sudah. mau gimana lagi?"
Terus terang saya agak kesal juga dengan kejadian ini. Tapi ya, dalam hati saya berusaha untuk mengucap syukur. Barangkali Tuhan tidak menghendaki kami membawa Tata ke dokter Sondang. Saya langsung menelpon isteri saya. "Saya akan ke Rumah Sakit Imanuel saja deh. daripada harus nunggu samapi hari Kamis lagi. Hari ini ada dokter THT yang praktek khan di sana?"
"Iya. Tapi dari jam 15.00, lho, sampai jam 17.00"
"Mudah-mudahan keburu"
Jadi saya langsung tancap gas ke Rumah Sakit Imanuel. Mendaftarkan Tata ke bagian THT dan mendapatkan nomor antrian 4."Dokternya baru datang, pak" Kata suster bagian pendaftaran.
"Kenapa, pak?" suster di bagian THT bertanya kepada saya, waktu saya menyerahkan nomor antrian anak saya kepadanya.
"Mimisan terus" jawab saya
"Oh, panas dalam?"
"Kayanya ada lintah deh di hidungnya"
"Hiiiii... koq Tahu, pak?"
"Iya, kemarin ini sudah sempet nongol ekornya. Cuma kita tidak bisa menariknya"
"Hiiii...Tadi siang juga ada yang begitu. Anak remaja umur 15 tahun lah kira-kira. Habis camping. Ga tahunya bawa oleh-oleh".
"Oh, sama dikeluarinnya sama dokter ini?"
"Bukan sih, dokter lain. Kebetulan kalau pagi ada 3 dokter yang praktek"
Pada saat itu pasien nomor antrian 2 dipanggil untuk diperiksa. Tata mengerjakan PR Matematika, yang sengaja dibawanya supaya bisa dikerjakan sambil menunggu giliran.
Tidak lama kemudian pasien nomor antrian 3 mendapat giliran. Tiba-tiba ada telpon yang meminta dokter segera ke ruang operasi karena ada pasien yang kritis. Jadi waktu kami mau masuk ke ruang dokter. Dokternya minta maaf dan berkata akan memanggil rekannya menggantikan dia memeriksa Tata. "Paling lama 20 menit lagi, pak. Rumah beliau dekat koq"
"Ok. terima kasih, dokter." Apa boleh buat, kami menunggu lagi
Akhirnya setelah menunggu kira-kira 30 menit, dokter itu datang. Namanya dokter Yan Edwin.Secara singkat saya menceritakan keadaan Tata. sambil menunggu pintu ruang prakteknya dibuka. "Oke. Nanti Om periksa dulu, ya. Jangan takut" Katanya menenangkan Tata.
"Silahkan, Pak. Mungkin anaknya dipangku saja supaya tenang". Beliau mempersilahkan kami sambil menyiapkan peralatannya.
“Wow, itu dia! Besar sekali!" Katanya setelah memeriksa lubang hidung Tata. "Sudah berapa lama?"
"Kurang lebih sebulan dok. Waktu masuk sih mungkin cuma sebesar biji beras."
"Jadi selama ini dia berpesta menghisap darahmu? Mmm posisinya kurang enak nih.Tunggu, sebentar, ya.”
Beliau lalu mengambil sebuah wadah, mungkin seperti baskom kecil. Mengisinya dengan air. Mendekatkan ke hidung Tata dan mulai mengaduk-aduk air itu dengan tangannya untuk menimbulkan bunyi air berkeriapan. "Katanya sih begini caranya."
Dalam hati saya berdoa meminta Tuhan menolong dan memakai tangan dokter itu untuk mengeluarkan lintah dari hidung Tata. Tidak lupa saya memerintahkan lintah itu agar segera keluar meninggalkan tubuh Tata.
Dokter memeriksa hidung Tata kembali. "Tu, dia mulai bergerak. Rupanya tidak tahan mendengar bunyi air tadi.Ha, ha... Mungkin dia kira ada sungai di sini. tunggulah sampai kau keluar nanti!" Katanya sambil tersenyum.
Tidak lama kemudian dokter Yan mengambil sebuah gunting kecil dengan ujung bercapit. Rupanya dia sudah siap beraksi. Dengan perlahan tapi pasti. dimasukkannya gunting itu ke lubang hidung sebelah kiri Tata. Lalu ditariknya kembali. "Wow, lihat! Sebesar ini!"
Saya terkejut melihat lintah kira-kira sepanjang 2 batang korek api dalam jepitan gunting dokter Yan. Selama ini saya membayangkan yah mungkin lintah itu hanya berukuran 4 cm. Pantas saja, semprotan air garam itu tidak menimbulkan efek yang kami harapkan.Suster yang membantu pun ikut berteriak menahan kaget. Mungkin bercampur ngeri atau geli melihat makhluk asing sebesar itu bercokol di lubang hidung anak kecil berumur 7 tahun.
"Sus, masukkan ke dalam botol. Mungkin mamanya mau melihat. Mau dibawa pulang, Pak?" Dokter meminta sebuah botol kepada suster.
"Jangan, Pi. Takut! Matiin aja! Ntar kalau lepas gimana?" Tata bereaksi secara spontan mendengar perkataan dokter.
"Boleh, dok." Saya menyetujui saran dokter. "Mami khan belum lihat. Ga apa. tidak akan lepas kok lintahnya," saya mencoba menenangkan Tata.
"Tidak ada yang tertinggal, dok? Atau masih ada yang lain?" saya bertanya untuk memastikan.
"Coba saya periksa lagi."
Tak lama kemudian, dokter itu memberi jawaban yang melegakan hati."Tidak ada, Pak. Tadi khan lintahnya keluar dalam keadaan utuh. jadi tidak ada yang tersisa. dan tidak ada yang lain.”
“Gimana sih ceritanya, Pak?"
Jadi saya ceritakan secara mendetil apa yang Tata alami selama sebulan ini.
"Wah untung ya Pak, dari mulut lintah itu masuknya ke lubang hidung. Kalau dia jalan ke tenggorokan atau kerongkongan bisa lain ceritanya."
"Iya, dok. Terima kasih" Saya menyudahi pembicaraan dan mohon diri. Lega. Dan tidak lupa bersyukur bahwa ternyata Tata tidak perlu menjalani pemeriksaan yang rumit yang selama ini kami takutkan.
Sesampai di rumah, saya langsung mengeluarkan lintah itu dari botol. Ternyata tidak segampang yang saya duga mulutnya menempel dengan erat pada botol itu. Saya harus mencongkelnya dengan gagang sikat gigi yang tidak terpakai.meletakkannya pada kertas untuk mengukurnya. Dan tepat seperti perkiraan saya, ketika lintah itu menjulurkan badannya, panjangnya kira-kira 2 batang korek api.
Segera kami berkumpul untuk berdoa, mengucapkan syukur atas pertolongan Tuhan.
"Ingat, Ta, Tuhan itu sangat baik. Tata tadi dengar khan Om dokter bilang untung lintahnya masuk di hidung Tata, tidak ke paru-paru atau ke bagian tubuh Tata yang lainnya." Tata mengangguk. Kami sekeluarga mengaminkan kebaikan dan kasih Tuhan untuk keluarga kami.(Nugraha Lestantun)(SUMBER)

Tuhan yang Menjamin Hidup Hamba-Nya


Pada tahun 1995 adalah tahun yang ke-6 gereja saya GPdI Kalibata telah digusur. Jadi sudah tidak ada jemaat yang digembalakan, saya benar-benar hidup dari kemurahan Tuhan. Bukan basa-basi, setiap hari mengharapkan berkat dari burung gagak.
Tuhan Yesus yang memanggil saya adalah Tuhan yang menjamin hidup hambaNya walaupun tanpa gereja, jemaat, dan perpuluhan. Benar-benar burung gagakNya tidak pernah terlambat membawa berkat untuk kebutuhan kami.
Ada seorang anak gadis yang tidak ada hubungan apa-apa dengan kami, baik persaudaran maupun pertemanan, gadis ini adalah teman akrab gadis di seberang rumah kami. Dalam tempo yang cukup lama, kira-kira lebih dari dua tahun dia telah menjadi burung gagak bagi kami, karena setiap bulan dia tidak pernah lupa menitipkan amplop berisi uang kepada temannya untuk disampaikan kepada kami.

Belum pernah ia menyampaikannya secara langsung kepada kami dan masih ada burung gagak-burung gagak yang lain sehingga kami terpelihara dalam kemurahan Tuhan. Tentu saja kami harus penuh hikmat menggunakan uang tahun-tahun itu, tapi kami tidak kekurangan dan anak-anak kami bisa terus bersekolah tanpa menunggak uang bayaran sekolah.
Pada tahun 1995 GPdI mengadakan 'mubes' yang diselenggarakan di SAB Batu-Malang. Walaupun saya sudah tidak punya gereja, tapi saya tidak mau kehilangan kesempatan untuk pesta yang satu ini. Dan walaupun cuma uang hanya pas-pasan Tuhan sediakan untuk kami berangkat ke Beji. Kami pergi bertiga, saya, istri dan anak saya yang bungsu yang baru berusia 3 tahun.
untuk menghemat ongkos kami naik KA Gayabaru yang pengap itu, sengaja saya naik KA, rencana saya supaya pulangnya saya bisa naik bus AC agar nyaman. Begitu sampai di Beji saya segera beli ticket bus AC untuk pulang nanti selesai 'mubes' akan dijemput di SAB. Tenanglah saya mengikuti 'mubes' beberapa hari bertemu dengan teman-teman dan saling sharing berbagi pengalaman.
Selesai 'mubes' kami semua siap-siap mau pulang, bus yang dicharter sudah berdatangan, begitu juga bus yang saya tumpangi sudah ada menunggu kami naik. Saya dan istri sudah siap berdiri dekat bus itu. Waktu kami sedang siap-siap berdiri di samping bus itu, kami melihat sepasang suami istri hamba Tuhan (kelihatannya seperti orang dari Papua) yang nampaknya kebingungan. Saya sapa kedua hamba Tuhan ini dan dia berkata, "Saya mau pulang ke Papua, tiket kapal sudah ada, tapi ongkos saya ke Jakarta tidak punya." Dan hamba Tuhan ini minta tolong sama saya.
Saya sudah tidak punya uang kecuali dua lembar tiket bus untuk saya pulang ke Jakarta. Tapi melihat hamba Tuhan ini saya kasihan maka saya berikan dua lembar tiket yang saya miliki itu dan saya bilang, "Ini busnya, naik saja sekarang." Jadi saya yang bermasalah sekarang tidak punya tiket untuk pulang.
Tapi sungguh Tuhan itu heran, tidak sampai lima menit ada seorang teman tergopoh-gopoh menemui saya sambil berkata, "Cob, tadi Brur Freddy Pattiradjawane mencarimu, cepat temui dia." Saya cepat mencari dan menemui Pdt. Freddy Pattiradjawane dan saya tanya ada apa mencari saya?
Dia berkata, "Saya mau kasih kamu berkat," sambil menyodorkan amplop ke kantong saya. Akhirnya dengan uang itu, saya bisa pulang naik bus VIP, bus besar ber-AC yang hanya berisi 20 tempat duduk dan masih ada uang sisa lebih untuk dibawa pulang. Yes! Tuhanku dahsyat! (Pdt Jacob Siwi) gpdi_atl@yahoo.comThis e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.(SUMBER)

Yesus Pulihkanku


Saya adalah anak ketiga dari lima bersaudara dan sejak lahir penganut Kristen mengikuti jejak leluhur. Sekalipun dari keluarga Kristen namun orangtua sering terlibat dalam kuasa kegelapan yang juga mengikut sertakan anak-anak. Kedua orangtua saya bekerja di sebuah instansi pemerintahan juga sibuk dengan kegiatan keluarga atau usaha, sehingga membuat kami jarang berkumpul.

Pada saat masih kecil saya merasa sering dibedakan oleh orangtua tanpa tahu kenapa alasannya. Saya tinggal di rumah bersama 4 sepupu yang masing-masing sibuk dengan urusannya. Sebagai anak kecil pada saat itu saya sangat merasa kesepian. Salah satu sepupu saya yang masih remaja sering membawa tetangga dan teman bermainnya ke rumah. Kebanyakan dari mereka adalah penjudi, pemabuk. Setiap hari selalu saja ada perkataan kotor keluar dari pembicaraan mereka bahkan kadang mengajarkan saya untuk berlaku seperti orang dewasa, seperti: berpelukan dengan telanjang dan segala hal berbau seks.
Berada di lingkungan seperti itu setiap hari mengubah saya menjadi anak yang berbeda dalam pemikiran. Saya selalu menjadi penasaran akan arti ucapan kotor dan untuk mencari tahu saya bersama teman-teman sering mengintip orang pacaran bahkan kadang-kadang berkeliling mengintip rumah orangtua masing-masing secara bergiliran dan memperagakan apa yang kami lihat baik dengan laki-laki atau dengan perempuan, bahkan beberapa kali hal tersebut dilakukan di loteng rumah saya.
Saya kemudian mengenal tentang masturbasi bahkan melakukannya pada usia 9 tahun. Pada saat itu masturbasi hanya saya anggap seperti suatu permainan baru karena bukan hanya saya saja tapi juga ada teman yang lebih dulu melakukannya, malah pernah saya praktikkan di depan salah satu saudara supaya membuat dia tertawa.
Orangtua tidak pernah mengetahui hal-hal yang saya buat sewaktu mereka tidak ada di rumah. Semakin hari daya khayal saya semakin tinggi, saya menjadi anak yang semakin nakal, tidak bisa berkonsentrasi dalam belajar alias bodoh, tidak jarang papa yang bersifat keras memukul atau mengurung saya. Jadi untuk memanipulasi papa, saya pura-pura membaca buku padahal sedang memikirkan hal yang kotor.
Dari semua saudara, sayalah yang selalu dipukul, diusir, saya sering jadi tontonan anak-anak sebaya sewaktu dipukul papa. Saya merasa tidak disenangi oleh keluarga karena selalu bikin ulah bahkan merasa bahwa papa malu mengakui saya sebagai anak.
Dosa masturbasi saya semakin meningkat, dalam sehari saya bisa melakukan berkali-kali dengan khayalan yang berbeda-beda. Saya mulai kenal pacaran, nonton film porno milik papa dan tidak jarang membaca buku stensil pinjaman dari teman. Semakin hari prestasi saya semakin hancur dan tentunya membuat saya juga tambah jauh dengan papa.
Saya teringat saat sedang menangis dari sebelah kamar terdengar suara radio yang menyanyikan lagu seperti ini: “mampirlah dengar doaku Yesus penebus…” pada saat itu saya langsung mencatat dan menyanyikan dengan hati tersayat (padahal waktu itu saya cuma asal cari nama tempat curhat yaitu Yesus yang selalu ada di berita kalau saya Sekolah Minggu). Dalam setiap tangisan pasti saya bertanya kenapa saya dibilang bodoh terus oleh orangtua, saya benar benar bodoh, saya genit, saya malas, saya pencuri itulah yang selalu mengisi buku harian saya, dan pikiran ini lambat laun menancapkan akarnya dalam diri saya.
Saya merasa tidak memiliki sesuatu yang patut dibanggakan baik itu dalam kebajikan, pendidikan bahkan kekudusan. Sebagai remaja pikiran ini membentuk saya menjadi pribadi yang haus akan kasih dan untuk mencari kasih saya mencuri uang untuk menaikkan nilai diri saya. Awalnya mencuri uang recehan kemudian meningkat menjadi uang ribuan, uang SPP, menggandakan uang buku, menjual perhiasan orangtua bahkan memanipulasi dengan perhiasan palsu. Saya merasa ahli hanya dalam bidang kejahatan saja dan saya benar benar menikmatinya.
Saat menginjak SMP terjadi suatu peristiwa di rumah, mama kabur dari rumah kami tidak tahu alasannya tapi tiba tiba papa keluar dari kamar dan memarahi kami semua. Saya lihat kakak menangis dan karena takutnya pada papa dia lari memeluk papa. Beberapa lama kemudian baru kami ketahui bahwa papa telah berselingkuh dengan perempuan sesama anggota koor di gereja. Papa berusaha mencari mama dengan meminta pertolongan dari dukun. Satu minggu tanpa kehadiran mama membuat keadaan rumah sangat tegang, kami selalu berada dalam ketakutan dan ini membuat saya semakin merasa rendah diri saja. Setelah mama pulang keadaan sepertinya tidak seperti dulu lagi, sudah mulai tampak ada rasa curiga dan orangtua keluar dari gereja karena malu.
Setelah menjadi pencadu uang, saya merasa uang dapat membeli nilai diri orang lain yang dapat menghibur saya pada saat itu. Setiap hari, kejahatan saya semakin lengkap saja. Saya mulai mencoba minum obat-obatan, pergi kedunia hiburan malam, hubungan seks yang nyata, bahkan gaya hidup bebas telah menjadi bagian hidup saya. Saat itu tempat tersebut membuat saya merasa nyaman diterima, karena ditempat ini tidak mengenal prestasi, semua orang sepertinya mempunyai posisi yang sama dengan saya yaitu pembohong, perempuan murahan, atau orang-orang yang memang dikucilkan oleh keluarga sehingga membuat kami jadi satu dan cepat sekali akrab.
Saya sering sekali menginap di tempat orang lain dengan cara menipu orangtua dengan alasan belajar. Mereka pikir saya sedang belajar padahal saya sedang pesta obat dengan teman-teman. Lama kelamaan orangtua mulai curiga dengan kondisi tubuh saya yang semakin kurus dan suka jatuh di tangga rumah. Lalu mereka menanyakan hal tersebut dan saya menyangkalnya. Tentu saja orangtua tidak percaya, dan mereka membawa saya ke tempat orang pintar (sebutan peramal pada saat itu) untuk minta disembuhkan, sekalian minta berkat untuk bisa memasuki kuliah karena orangtua saya ragu dengan prestasi saya.
Selepas SMA dengan nilai yang mengecewakan, saya mengutarakan pada papa bahwa saya belum mempunyai keinginan untuk melanjutkan sekolah, namun papa bersikeras meminta saya melanjutkan sekolah. Akhirnya daripada saya dimarahi terus, saya mengikuti saja keinginan papa untuk melanjutkan sekolah dan mendaftar di kedokteran gigi serta komputer. Tidak disangka ternyata saya diterima di keduanya. Karena pertimbangan biaya, pilihan yang saya ambil adalah teknik komputer yang biayanya lebih terjangkau.
Penyakit cinta uang semakin jadi tumbuh kuat dalam hidup saya. Kebebasan anak-anak kuliah pun saya manfaatkan sebagai ajang meminta uang dan alasan untuk melakukan trip keluar kota berpesta pora, berhubungan seks. Hampir setiap hari saya melihat pesta putau dan tentunya dengan uang hasil menipu orangtua saya yang membiayai setiap pesta pora tersebut untuk mencari teman. Seks berarti saling memberi dan menerima, yaitu saya memberi seks dan saya akan mendapat cinta. Dengan seks saya merasa dibutuhkan dan diingini oleh orang lain dan menerima perhatian, tapi sebenarnya semua itu menjijikkan. Tapi karena seks lah yang diinginkan pria, jadi saya rela melakukannya, sehingga setelah melakukan hubungan seks, malam harinya pasti saya melakukan masturbasi.
Semakin buruknya pergaulan saya, sepertinya ada sesuatu dalam hati yang selalu berteriak minta tolong, saya jenuh dengan perbuatan saya. Saya bosan hidup dalam kebohongan sepertinya semua sudah menyesak di dada dan saya mengutarakan hal tersebut pada teman pria saya pada saat itu namun yang terjadi adalah saya diancam dengan pisau di pipi dan ke leher.
Sewaktu saya siap meninggalkan pria tersebut, seperti tertimpa benda berat di atas kepala, saya sangat kaget sekali sampai mengucurkan keringat, ternyata saya hamil! Saya bertambah panik sekali karena takut pada orangtua, malu dan juga saya tidak menginginkan pernikahan dengan pria itu.
Selama dua bulan masa kehamilan saya berusaha tenang untuk menipu orangtua namun setiap hari di kamar hidup saya seperti neraka, tidak pernah berhenti memikirkan ke mana arah hidup saya.
Saat itu saya teringat lagu sebuah drama natal yaitu “Firman-Mu pelita bagi kaki ku terang bagi jalanku, waktu ku bimbang dan hilang jalan ku tetaplah Kau di sisiku.” Saya cari kaset itu dan saya putar terus sambil menangis minta tolong pada Tuha,n minta satu kesempatan untuk berubah untuk melalui masa kehamilan ini. Bayangan diusir, atau dibunuh atau dinikahkan, dibawa ke kampung selalu menghantui. Usaha aborsi telah saya coba, namun gagal. Saya pun merencanakan usaha bunuh diri di sebuah kali yang sangat besar dan deras airnya, rencana saya waktu itu sebelum bunuh diri adalah ke gereja dulu untuk yang terakhir kali.
Pada saat itu gereja sedang mengadakan peringatan hari Kematian Tuhan Yesus. Ketika sedang melamun hati saya dikejutkan oleh sebuah firman yang dibawakan seorang penatua yaitu: “Marilah datang kepadaKu semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan padamu…” Seolah-olah firman itu berbicara pada saya, dengan spontan saya menjawab dalam tangisan hati: “ya Tuhan Engkau benar benar ada, ya saya mau datang, saya punya beban.“ Dengan menggebu-gebu di rumah saya memikirkan bagaimana caranya saya datang ke Tuhan? Ah pasti melalaui gereja. Kebetulan saat itu gereja sedang mengadakan retreat bagi pemuda, jadi saya berani mendaftarkan diri ikut retret, saya dengan yakin akan menemukan jalan.
Namun di tempat retret, kejadian yang tidak saya inginkan justru terjadi. Saya bertemu dengan seorang pria yang memaksa untuk melayani nafsu seks nya. Saat menolak, saya dikejutkan oleh perkataannya yang menyebut saya munafik. Hati saya membenarkan bahwa memang saya adalah orang yang seperti itu, saya berpikir mungkin laki-laki ini tahu kondisi saya, jadi tanpa ada lagi rasa ingin ketemu Tuhan saya melayani nafsu lelaki tersebut, oral seks. Sambil menangis, menjerit dalam hati saya melayani nafsu orang lain, setelah puas diapun meninggalkan saya.
Setelah tidak ketemu Tuhan di tempat retret, dengan terpaksa saya kembali ke tempat pria yang menghamili saya untuk berbicara, namun pria tersebut ternyata baru saja ditangkap polisi dan dipenjarakan. Saya memberanikan diri menemui orangtuanya. Saya ditemui oleh seorang ibu yang bertempat tinggal dekat dengan rumah pria tersebut, dan tanpa banyak tanya lagi ibu itu menyodorkan secarik kertas berisikan nama dan alamat seorang tukang urut. Ibu itu berkata prihatin melihat keadaan saya yang jadi korban mainan dari tetangganya, hanya melihat bentuk tubuh saya saja dia langsung tahu kalau saya hamil. Dengan disetujui oleh orangtua pria itu, sayapun menerima tawaran aborsi dan keesokan harinya saya diantar oleh orangtua pria itu untuk aborsi di sebuah dusun yang sangat jauh.
Sepanjang perjalanan saya menangisi janin itu, entah kenapa tiba-tiba ada perasaan keibuan yang muncul yang membawa penyesalan yang teramat dalam. Setelah aborsi saya mengurung diri dan menangisi diri sendiri, saya selalui dihantui rasa bersalah bahkan sering bermimpi buruk. Keesokan harinya saya melihat sebuah buku renungan tergeletak di meja. Di halaman belakang tertulis ayat yang sama lagi yaitu, “Marilah datang kepadaKu semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadaMu…”
Malam harinya secara sembunyi-sembunyi saya menghubungi nomor telepon konseling dari buku tersebut, saya menceritakan perasaan hancur sewaktu habis aborsi, dan konselor tersebut menyarankan untuk memberitahukan pada orangtua dan saya didoakan. Pada saat itu saya berpikir, bagaimana mungkin saya bisa memberitahukan orangtua, pastilah mereka akan usir saya atau mereka justru mati kaget karena perbuatan saya? Saya tidak memiliki keberanian untuk hal tersebut jadi saya mengabaikan saran itu.
Beberapa hari melalui masa penyesalan saya mencoba keluar dari kamar melakukan aktivitas seperti biasanya karena takut ketahuan orangtua, saya mencari hiburan dengan bertemu teman-teman lama, karena saya tidak kuliah lagi jadi setiap hari saya keluar masuk mall, nongkrong.
Suatu malam ketika saya sedang menangis memukul-mukul diri saya dari dalam kamar terdengar oleh saya suara seseorang sedang bercerita tentang Yesus seperti ini: "Yesus menebus dosa kita, Dia mengampuni dosa kita, Dia menerima kita apa adanya.” Rupanya di ruang tamu ada kakak saya bersama temannya Samuel. Dia sedang bersaksi mengenai Yesus, saya hanya diam mendengar meskipun sebenarnya ingin bertanya tapi saya tidak berani karena ada kakak.
Melihat espresi wajah saya bang Samuel meminta saya duduk dan setelah selesai dan sudah tidak ada kakak, saya bertanya apakah benar Yesus menebus dosa? Jawabnya, “Ya betul Yesus menebus dosa kita, mengampuni sekalipun dosa kita merah Yesus menjadikan putih.” Saya bertanya lagi, sekalipun saya berbuat jahat seperti pembunuhan apa Yesus menerima saya? Bang Samuel menjawab lagi, ”Ya Yesus menerima kita apa adanya karena Yesus mengasihi kita.” Di situ saya menangis, pikiran saya seperti baru terbuka tentang Yesus, ini Yesus yang sering saya dengar selama ini di Sekolah Minggu, hebat banget!
Keesokan harinya bang Samuel datang lagi mengajak saya untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Setelah menerima Yesus saya mendapat suatu kelegaan, sesuatu yang mengisi hati dan membawa damai dalam jiwa, yah ada ketenagan di dalamNya. Saya menceritakan persoalan saya dan orang itu membimbing untuk mengakui segala dosa dan minta ampun kepada Tuhan Yesus.
Setelah itu seperti ada dorongan kuat dalam diri untuk membuang segala beban dosa yang tersembunyi selama bertahun-tahun itu, Roh kudus bekerja mengusik perbuatan jahat itu keluar dengan cara meminta saya mengakui dosa pada orangtua, karena saya tidak bisa lagi hidup dalam kebohongan itu. Roh Kudus yang lembut memberikan kekuatan ekstra yang sebelumnya tidak saya miliki untuk memberitahukan kehidupan gelap saya pada orangtua. Awalnya saya punya rencana untuk memberitahu kehidupan dosa saya pada mama tapi saat itu tiba-tiba mama sakit kepala berat jadi saya rubah rencana dengan pergi ke kantor papa.
Sepanjang jalan saya dihantui ketakutan, semakin dekat dengan lokasi semakin jadi takut dan saya sudah siap-siap untuk turun dari bis mau membatalkan rencana pengakuan ini, saat baru mau bangun dari kursi saya dikejutkan oleh sebuah pemandangan di depan mata yaitu sebuah kayu salib dengan untaian jubah ungu di tengah-tengah tanah berbukit dan kemudian di atas kayu salib itu ada Yesus yang tersalib memandang kepada saya seperti berbicara, “untukmu anakKu.” Tetesan darah di kepalaNya menetes sampai kaki lalu seperti terasa menetes di atas kepala saya. Saya menangis tidak bisa berkata apa-apa belum pernah saya melihat hal seperti itu. Setelah sampai, sambil menaiki anak tangga kantor di dalam nurani seperti suara terdengar “Jangan takut, Aku menyertaimu,” inilah yang membuat saya berani melangkah.
Papa saya sangat kaget atas pengakuan saya, bahkan dia menangis terisak-isak. Sesampai di rumah, saya dihadapkan dengan mama yang langsung menjeritkan tangisan sambil memeluk saya. Saya hanya terdiam menjawab semua pertanyaan dengan anggukan kepala saja, tidak berani menatap mereka. Saudara-saudari saya juga jadi ikut tegang karena situasi ini dan membuat mereka sepertinya tambah tidak menyukai saya karena akibat dari perbuatan saya juga berdampak bagi mereka.
Hari-hari saya lalui dalam keterasingan dan ketegangan di rumah dan saya sadar itu saya alami karena perbuatan saya. Kadang papa tidak bisa menahan lagi amarahnya sehingga mencaci maki saya terus. Saya juga menangis terus karena ikut Tuhan itu berarti menerima segala akibat dari pengakuan dosa saya. Untuk menguatkan diri, saya suka ikut KKR. Sejak bersama Tuhan ada perubahan terjadi pada saya, yaitu menjadi lebih penurut pada orangtua dan sepertinya keterikatan masturbasi pun hilang selama beberapa bulan.
Lambat laun suasana rumah mulai mencair dari suasana tegang, dan di saat bersamaan orangtua menjadi lebih dekat pada Tuhan. Setiap pagi sehabis bangun tidur saya lihat papa selalu berdoa. Kami kadang-kadang pergi bersama ke ibadah pembinaan iman bahkan papa mendaftarkan diri ikut sekolah pembinaan. Saya merasakan sukacita yang luar biasa sekali, hubungan saya dengan papa semakin dekat, saya bisa merasakan kasih sayangnya pada saya. Saya sangat heran pada perbuatan Tuhan saat itu.
Pada tahun 1997 terjadi peristiwa yang menimpa keluarga kami, usaha papa mengalami kehancuran, di bakar oleh sejumlah orang yang mengaku santri di suatu daerah dan mengakibatkan kerugian besar, belum lagi papa harus ditipu oleh rekan kerjanya. Seperti benturan bertubi-tubi menimpa orangtua membuat papa stres, dokter mengatakan ada tumor di dekat paru-paru sehingga harus dirawat inap di RS. Namun seperti sudah dibutakan oleh kesenangan dunia, kami anak-anak tidak pernah peduli terhadap orangtua karena merasa tidak dekat, justru kami merasa senang mendapat kebebasan bergerak.
Berulang kali, saya jatuh ke dalam dosa yang sama. Saya merasa sudah sangat kotor sekali dan tidak bisa lepas dari ikatan dosa tersbut. Suatu hari di dalam bis terdengar suara lembut memanggil nama saya dan saya mencari sumber suara itu di sekeliling tapi tidak ada. Lambat laun suara itu berbicara lagi “mari datang padaKu,” ternyata suara itu mengisi nurani saya mengingatkan komitmen saya sewaktu menerima Yesus. Setibanya di rumah saya berdoa menangis “Tuhan Engkau mendengar teriakanku”. saya disadarkan akan sebuah panggilan untuk dibaptis yaitu menyerahkan diri total pada Yesus, mengijinkan Yesus berkuasa atas hidup saya.
Puji Tuhan esoknya bang Samuel datang kerumah, sayapun menceritakan tentang kejatuhan saya (tapi tidak cerita keterikatan tentang masturbasi) dia kembali mengarahkan saya sampai akhirnya pada tanggal 20 November 1999 saya dibaptis. Sejak saat itu dia sering ajak saya mengikuti kelompok kecil dan mengenalkan saya pada sebuah gereja yang baru dibangun. Disinilah kasih mula-mula itu saya rasakan, semakin sering mengikuti kelompok doa, semakin saya dibangun dan sepertinya saya mulai bisa lepas dari pikiran kotor dan perbuatan masturbasi, selalu semangat setiap hari menceritakan tentang Yesus bahkan setiap ada pengertian yang baru saya selalu ceritakan ke papa tentang Yesus.
Semua berkat Tuhan saya terima begitu cepat, saya mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang bagus dengan gaji yang bagus juga awalnya hanya berstatus kontrak tapi dengan penyertaan Tuhan terpilih menjadi pegawai tetap dari antara puluhan orang, sakit asma yang dulu sering kambuh kalau stres sudah tidak ada lagi. Namun langkah saya masih dipenuhi dengan ujian.
Kematian papa tidak membawa saya kembali pada Tuhan, memang ada sedikit penyesalan mengingat betapa dia selalu ingin mengenal firman Tuhan tapi saya malah menjauh, saya berduka tapi sebentar saja, selebihnya justru saya semakin bebas, dan ini membuat hubungan saya dengan pria teman kantor semakin lengket. Bagi saya dia bukan hanya sebagai teman tapi juga seperti sosok orangtua yang mengasihi saya dan hal ini sempat membuat gerah beberapa teman yang lain karena orang yang saya pacari ini juga memegang posisi yang bagus di perusahaan.
Bisik-bisik pelacur juga sudah sampai ke telinga saya, mereka mengira saya mengikat pria ini dengan menjual seks, namun cinta telah membutakan saya, saya tidak pedulikan mereka. Satu tahun kemudian di saat saya semakin cinta dengan pria ini saya dikejutkan oleh telepon dari seorang ibu yang mengaku istri dari pria ini. Saya terkejut karena selama ini setahu saya dia sudah cerai.
Akhirnya saya menemui ibu ini bersama dengan pacar saya itu, kami pun berbicara. Ibu ini terus mengeluarkan perkataan-perkataan tajam pada saya, saya hanya bisa menangis saja di hadapannya tidak berdaya karena tidak ada pembelaan apapun keluar dari pria itu. Tidak tahan dengan perkataan tersebut saya marah pada pria itu dan berteriak, ”Bukankah kamu bilang sudah cerai? Kenapa saya yang dipojokkan?”
Ibu itupun kaget, saya berlari keluar dengan tangisan yang keras sekali. Waktu itu saya bilang, “Apalagi ini Tuhan? kenapa hidup saya selalu dikelilingi kejahatan?” Dosa baru saya nambah lagi yaitu merusak rumah tangga orang. Saya benar-benar tidak bisa ikut Tuhan, ternyata saya bukan pilihan Tuhan, itulah pikiran saya saat itu.
Saya sering berkomitmen untuk selalu kembali kepada Tuhan, selalu ada keinginan untuk sungguh-sungguh bertobat tapi pasti selalu gagal. Suatu kali saya menemui masalah kembali, kali ini masalah keuangan. Singkat cerita akhirnya saya dijebloskan ke penjara, dan di sini saya mengalami kejatuhan kembali melakukan seks dengan sesama jenis.
Selepas dari penjara, masalah masih terus mengikuti dan terakhir adalah kebangkrutan usaha saya. Inilah titik terendah dalam hidup saya di mana saya merasa tidak memiliki apa-apa lagi. Dalam depresi berat saya seperti mendengar suara lembut yang dulu tapi samar-samar “Mari datang padaKu.” Antara percaya dan tidak, Tuhan akan menerima, saya pergi ke sebuah gereja di tempat usaha saya dan didoakan oleh seorang pendeta yang berkata seperti ini, “Saudari sedang disayangi Tuhan, melalui peristiwa ini Tuhan ingin mata saudari tertuju kepada Dia. Tuhan berkata dalam FirmanNya CARILAH DAHULU KERAJAAN ALLAH DAN KEBENARANNYA, MAKA SEMUANYA AKAN DITAMBAHKAN KEPADAMU.
Firman ini selalu menempel di kepala saya dan membuat gelisah, saya memutuskan cari Kerajaan Allah tapi bagaimana? Karena gereja itu letaknya jauh dari rumah jadi saya memutuskan untuk mencari gereja yang pernah dikenalkan oleh teman kuliah. Saya keliling mencari gereja itu tapi sudah pindah, kemudian saya cari gereja alternatif lain juga tidak ketemu, akhirnya saya capek keliling tapi masih penasaran dengan Firman CARILAH DAHULU KERAJAAN ALLAH…
Saya pergi ke warnet dan masuk ke millis terangdunia. Saya menanyakan maksud dari firman tersebut dan banyak yang mereferensikan uraian arti firman tersebut, tapi saat itu bagi saya semua tidak masuk akal, karena saya sudah coba lakukan berdoa, baca Alkitab tapi yang terjadi justru sebaliknya sampai akhirnya sepertinya saya mendapat respon dari Bp. Boy Gunawan dengan poin-poin yang tepat dengan masalah hidup saya, di antaranya adalah penyembuhan batiniah.
Sewaktu merasakan respon dari teman-teman seiman hati saya menangis pada Tuhan bahwa sekali lagi Dia beri saya kesempatan. Oleh karena itu dengan segera saya mengikuti arahan dari Bp. Boy untuk bertemu dengan ibu Ida di GBI Metamorfosa. Beberapa hari sebelum ke Metamorfosa saya sangat merasakan kekuatan luar biasa bahkan tidak sabar untuk segera ke sana karena saya pikir inilah cara cari Tuhan itu.
Di Metamorfosa saya dilayani oleh Ibu Ida, juga Kak Risda, dan sewaktu didoakan lagi-lagi saya mengeluarkan suatu ekspresi di luar kontrol/manifestasi. Dulu saya pikir saya ini sakit jiwa karena setiap didoakan pasti ngamuk, namun saat ini saya sudah diberi pengertian mengenai pertobatan, pengampunan, dan penyaliban luka-luka batin yang saya alami sejak kecil dan menyerahkan pada Kristus. Saya diajar untuk memiliki hati yang sungguh-sungguh pada Tuhan dan tekad yang kuat untuk tetap berpegang pada Tuhan, karena di dalam ikut Tuhan seringkali anak-anak Tuhan mendapat hambatan.
Melalui Firman dari Yesaya 53:5 saya dibimbing untuk percaya bahwa Yesus telah mati untuk menanggung segala akibat dari dosa percabulan, perzinahan, merebut suami orang, merugikan orang lain, menipu orangtua, aborsi, sakit rahim, sinus, batuk kronis. Yesus membebaskan saya dari dosa berkali kali memberontak, menghujat Dia. Dosa yang dulu saya pikir tidak mungkin diampuni semuanya telah ditanggung oleh Yesus. Saya juga diajar untuk memulai hidup yang baru dalam takut akan Tuhan. Sewaktu mendengar ini, pikiran dan hati saya seperti terbuka, tersentak seperti pertama kali menerima Yesus, seraya tidak percaya tapi harus percaya bahwa Yesus yang sama masih menerima saya yang sudah berjanji puluhan kali, jatuh berkali-kali, menyalibkan Yesus berkali-kali, tapi Yesus tetap mengampuni saya bahkan diberi kesempatan untuk bertumbuh menjadi seseorang yang baru tanpa harus menjadi sempurna seperti yang selama ini saya bayangkan. Saya merasakan Tuhan mengasihi saya tanpa syarat, apa adanya saya boleh datang dalam doa bahkan boleh minta pertolonganNya untuk mengubah beberapa hal dalam hidup saya.
Melalui bimbingan hamba-hamba Tuhan ini saya merasakan kelegaan, seperti beban yang saya bawa puluhan tahun terlepas begitu mudahnya oleh darah Yesus dan mengalirkan sukacita yang luar biasa sampai saya berani menceritakan keadaan diri saya yang sebenarnya kepada kakak dan juga salah satu adik saya. Ternyata adik saya punya masalah berat, mengakuinya dan memutuskan kembali kepada Tuhan. Pengakuan adik bungsu saya membawa mama kepada tingkat kegagalan lebih jauh lagi, mama sudah mau pingsan mendengar permasalahan adik, namun beberapa hari kemudian mama memutuskan datang pada Tuhan. Kami satu persatu mulai ikut konseling dan pemuridan di Metamorfosa.
Hubungan kami yang tadinya tidak akrab mulai dipulihkan Tuhan, kami saling mengakui dosa dan saling memaafkan. Komunikasi antar keluarga yang dulu begitu sulit kini sudah dipulihkan Tuhan. Mama dan kakak saya bahkan sudah memberikan diri untuk dibaptis. Mama mencabut semua kutuk, sumpah serapah yang dulu ditujukan pada saya diganti menjadi berkat di atas kepala saya, sejak saat itu saya lebih lagi bersukacita.
Saya yang selama ini bertanya pada Tuhan: "Kenapa saya banyak dikelilingi laki-laki yang tidak beres, yang hanya seks, seks, seks saja?" Saya baru mengerti bahwa latar belakang keluarga besar juga menjadi penyebab kegagalan dari sebagian hidup saya. Belakangan setelah saling terbuka, baru saya tahu kebenaran tentang papa yang memiliki beberapa pacar baik sebelum atau sesudah menikah, dan akibat dari perbuatan tersebut saya juga harus menanggung tuaian juga dari perbuatan leluhur yang memiliki isteri lebih dari satu, dan juga perbuatan saya. Selama ini saya menyalahkan Tuhan atas segala yang terjadi.
Setiap hari berjalan dalam kekuatan Tuhan membuat saya semakin kuat menolak dosa, pikiran semakin dikuduskan dari bayangan kotor masa lalu. Sakit sinusitis akut yang saya derita sejak tahun 2002 mulai berkurang, batuk kronispun nyaris tidak ada membuat saya tidak takut minum es atau kena hujan, nyeri pada rahim berkurang. Pola pikir saya diubahkan bahkan yang lebih dahsyat lagi saya beroleh pengenalan akan kasih Tuhan di mana Yesus bukan saja Tuhan tapi juga sebagai Bapa sejati. Di mana saya boleh mengenal Tuhan sebagai Tuhan yang mati, bangkit dan juga naik ke Sorga untuk saya, untuk mengembalikan otoritas yang dirampas iblis ke dalam tangan anak-anak Tuhan yang percaya padaNya. Sekarang di rumah kami sudah ada mezbah keluarga, kami bisa saling tukar cerita dan tidak lagi saling menghakimi.
Saya percaya Tuhan telah mempersiapkan waktu yang tepat untuk membebaskan saya dari segala perbudakan hutang dan pergumulan lainnya karena Dia yang berfirman menjanjikan masa depan yang penuh harapan bagi saya. Saat ini saya percaya apa yang Tuhan katakan mengenai gambar diri saya dan bukan lagi kepada intimidasi, mengasihani diri. Tuhan mengajar saya untuk mengasihi, mengampuni, memberkati orang lain bahkan Tuhan memberikan banyak ide dan gagasan dari dalam diri untuk berkreasi mengubah benda-benda yang tersedia di sekitar saya menjadi sutau karya yang saya rindu dapat memberkati orang lain.
Bagi saya ini adalah suatu harta yang diberikan Bapa kepada saya yang tidak pernah saya lihat sewaktu dalam dosa, terselubung oleh dosa dan keinginan dunia. Jauh di luar pikiran saya banyak ide-ide muncul dalam benak saya, bahkan tanpa harus keluar biaya modal untuk mengerjakan semua yang harus saya lakukan, hanya melatih diri, mengerjakan bagian saya mengasah potensi yang sudah Dia berikan. Melalui dorongan dan bimbingan hamba-hamba Tuhan yang begitu sabar menolong saya dan keluarga, membuat saya melihat arti Kasih Yesus yang mengalir tidak terselami. Saya tidak mengenal mereka, tidak menggaji, tapi mereka mau melayani hanya karena dasar Kasih Yesus, betapa luar biasa Yesus, Dia membuat saya berharga. Tuhan adalah sosok Bapa yang saya rindu, sosok Bapa yang dulu rusak kini telah pulih membuat hubungan saya bertambah dekat.
Inilah yang saya rasakan mengenai kasih Tuhan, tidak terselami, tidak terbatas pada pikiran saya. Sebab jika dinilai menurut perbuatan saya ini tidak layak, tidak pernah ada perbuatan saya yang menyenangkan hati Tuhan bahkan justru sebaliknya, tapi kenapa Yesus memilih saya untuk kembali padaNya, menerima anugerah dan warisan KerajaanNya, sungguh saya tidak akan pernah bisa menyelami ini semua, dan akhirnya Terpujilah nama Tuhan karena kasihNya saya boleh menulis kesaksian ini.(SUMBER)